Showing posts with label SKRIPSI. Show all posts
Showing posts with label SKRIPSI. Show all posts

Tuesday, March 29, 2011

Antara Niat Dan Lafaz


Niat
- Setelah ingin bersolat, maka hendaklah dia niatkan solat yang ingin didirikannya. Dan disyaratkan menghadirkan dalam hati perkara-perkara niat, iaitu: jika
1- Solat fardhu: Qasad, taarud dan ta’yin.
2- Solat sunat berwaktu dan bersebab: Qasad dan ta’yin.
3- Solat mutlak (semata-mata solat) : Qasad sahaja.
Contoh niat ialah: Aku ingin bersembahyang fardhu zuhur, kerana Allah SWT. Dan tidak disunatkan melafazkan niat, kecuali jika dilafazkan, ia membantu memudahkan niat. Dan tidak disunatkan membaca apa-apa bacaan sebelum bertakbir, kerana permulaan solat ialah takbir.

Takbiratul Ihram
- Setelah berniat, maka hendaklah bertakbir. Dan di dalam takbir itu, maka hadirkanlah keagungan dan kebesaran Allah SWT. Dan janganlah dinyaringkan takbir, kecuali bagi imam. Dan tidak boleh bagi makmum bertakbir mendahului imam atau bersama imam. Dan disunatkan baginya terus bertakbir setelah imam selesai bertakbir, dan jangan melengah-lengahkannya. Lafaz takbir ialah:
اللهُ أَكْبَرُ
Masalah Muqaranah Niat
Berkata Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, dalam kitabnya Sabilal Muhtadin, juz 1, m/s 195: “Tetapi memilih Imam Nawawi di dalam “Majmuk” akan yang telah dipilih akan dia oleh Imamul Haramain dan Imam Ghazali bahawasanya memadai pada niat itu muqaranah urfiyyah, pada orang yang awam…Dan kata setengah mereka itu, bermula murad (maksud) dengan dia bahawa dipadakan (memadai) menghadirkan niat dahulu sedikit daripada takbir dan jika lalai ia daripadanya di dalam takbir sekalipun. Dan muwafaah (sama) akan dia atas taswir (gambaran) ini segala imam yang tiga, iaitu Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal r.a

- Semasa bertakbir, disunatkan mengangkat kedua tangan, dan tapak tangan itu dibuka dan dihadapkan ke arah kiblat. Kedua tapak tangan disunatkan menyamai bahu, dengan dua ibu jarinya menyamai dua cuping telinganya.

__________

p/s: harap pembaca dapat bezakan antara lafaz di mulut dan niat di hati... ('',)

Sunday, June 27, 2010

SKRIPSI: Hubungan Hati Dengan Iman


Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitabnya, Fathul Baari menjelaskan makna ‘Iman’ menurut bahasa adalah tashdiq (mempercayai), sedangkan menurut istilah adalah mempercayai Rasulullah SAW dan berita yang dibawanya dari Allah SWT.

Imam al-Bukhari memulai hadisnya di dalam Kitab al-Iman dengan ungkapan ‘Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang’. Yang dimaksudkan dengan ‘perkataan’ adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, sedangkan yang dimaksud dengan ‘perbuatan’ adalah mencakup perbuatan hati (keyakinan) dan perbuatan anggota badan (ibadah).

1. Amar Makruf Nahi Mungkar Sebagai Tanda Keimanan

Menganjurkan kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran termasuk tuntutan keimanan dan di antara sifat-sifat orang mukmin. Mencegah kemungkaran dengan hati adalah selemah-lemah iman karena perbuatan hati di sini hanyalah mencakup mengingkari, membenci dan tidak meridhai akan kemungkaran itu.

Adapun ridha terhadap hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT adalah bagian dari kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Banyak dari kalangan ulama yang berpendapat bahwa meridhai hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT itu tidak disyariatkan, sebagaimana juga tidak disyariatkan untuk mencintainya, karena sesungguhnya Allah SWT juga tidak meridhai dan tidak mencintainya.

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW:



حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، كِلاَهُمَا عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ، - وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ - قَالَ أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلاَةِ مَرْوَانُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلاَةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ ‏.‏ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ.‏ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ‏"‏مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ"‏.‏ (رواه مسلم



Orang yang pertama kali berkhutbah sebelum salat pada waktu hari raya adalah Marwan. Lantas ada seorang laki-laki yang berdiri (untuk menghadap) kepadanya. Lelaki itu berkata, “Salat (hari raya itu dilaksanakan) sebelum khutbah.” Marwan berkata. “Hal itu telah ditinggalkan.” Maka Abu Sa’id berkata, Adapun lelaki ini, maka dia telah menunaikan kewajiban atas dirinya. Aku telah mendengar Rasul SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kalian ada yang melihat sebuah kemungkaran, maka hendaklah dia merubah kemungkaran itu dengan tangannya. Apabila dia tidak mampu, maka hendaklah (dia merubah kemungkaran itu) dengan lisannya. Namun apabila masih tidak mampu, maka (hendaklah dia mengingkari kemungkaran itu) dengan hatinya. Dan hal itu merupakan tingkat keimanan yang paling lemah.”(Riwayat Muslim)

Hadis riwayat Imam Muslim di atas menerangkan tentang mencegah kemungkaran adalah bagian dari cabang iman . Sedang iman bisa bertambah dan berkurang sesuai dengan kondisi seseorang dalam melaksanakan perintah syariat. Semakin banyak melakukan kebajikan, maka iman pun semakin kuat. Sebaliknya semakin banyak melakukan maksiat, maka iman pun semakin rapuh.

Karena itu, setiap muslim diperintahkan agar selalu mengajak kepada kebaikan dan mencegah segala bentuk kemungkaran. Yang dimaksudkan dengan mengingkari kemungkaran dalam hati adalah membenci kemungkaran tersebut di dalam hati. Untuk mengingkari sebuah kemungkaran, seseorang tidak diharuskan mampu menghilangkan atau mengubah perilaku orang yang mengerjakan kemungkaran tersebut. Akan tetapi dia hanya wajib memberikan peringatan sebatas yang dia mampu berikan.

Hadis di atas berkaitan juga dengan hadis berikutnya ini yang kandungannya adalah anjuran untuk berjihad terhadap orang-orang yang melakukan kebatilan, baik jihad melalui tangan, jihad melalui lisan maupun jihad melalui hati. Orang yang mengaku beriman akan berjihad sesuai dengan kemampuannya namun hal ini tetap dengan syarat tidak sampai menimbulkan fitnah dan kemudharatan yang lebih besar bagi dirinya dan orang lain.

Sabda Rasulullah SAW:



حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ النَّضْرِ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ - وَاللَّفْظُ لِعَبْدٍ - قَالُوا حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ، عَنِ الْحَارِثِ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَكَمِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْمِسْوَرِ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ‏"‏مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ"‏‏.‏ (رواه مسلم



“Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah kepada sebuah umat sebelum aku kecuali memiliki hawariyyun (para penolong) dan para sahabat dari kalangan umatnya. Mereka akan mengambil ajaran sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian akan datang pada generasi setelah mereka orang-orang yang merubah (semua tatanan) dengan sesuatu yang buruk. Mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan kepada mereka. Barangsiapa memerangi mereka dengan tangannya sendiri, maka dia adalah seorang mukmin. Barangsiapa memerangi mereka dengan lisannya, maka dia adalah seorang mukmin. Dan barangsiapa memerangi mereka dengan hatinya, maka dia adalah seorang mukmin. Tidak ada lagi sedikit pun keimanan untuk sikap di bawah tersebut, (maksudnya di bawah sikap pengingkaran dengan hati).” (Riwayat Muslim)

Di dalam kitab Syarah Hadis 40, mengatakan bahwa semua ulama sepakat bahwa memberantas kemungkaran hukumnya wajib. Karenanya setiap muslim wajib memberantas kemungkaran yang ada sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik dengan tangan, lisan atau hatinya. Mampu mengetahui hal-hal yang makruf dan mengingkari kemungkaran melalui hati merupakan fardhu ain bagi setiap individu muslim, dalam kondisi apapun. Barangsiapa yang mengetahui kemungkaran tapi tidak mengingkarinya, maka itu pertanda hilangnya iman dari hati. Ali r.a pernah berkata, “Jihad yang menjadi kunci pertama kemenangan kalian, adalah jihad dengan tangan, lalu dengan lisan, lalu dengan hati. Barangsiapa yang tidak mengetahui yang baik, dan tidak mengingkari dengan hatinya kemungkaran yang terjadi, maka ia akan kalah. Sehingga, kondisi pun berbalik, yang di atas menjadi yang di bawah”.

Imam Muslim mengelompokkan dua hadis di atas di dalam Kitab al-Iman pada bab ‘Mencegah Kemungkaran Sebagian Dari Iman, Dan Iman Bertambah dan Berkurang, Dan Wajib Menyuruh Kepada Kebaikan Dan Mencegah Kemungkaran’. Walaupun begitu, Imam Bukhari tidak memasukkan kedua-dua hadis berkenaan di dalam kitab shahihnya.

Wednesday, January 6, 2010

KAJIAN SAYA - HUBUNGAN SOLAT DENGAN HATI (القلب)

Kehidupan mempunyai banyak dimensi, banyak lapis dan fase. Di satu sisi, semuanya dapat berpadu bersama dalam meneruskan interaksi dinamis satu sama lainnya. Kehidupan adalah suatu perpaduan (integrasi) dari kesemuanya. Akan tampak bodoh bila kemudian ada usaha memisah-misahkan dan menganalisis kehidupan sebagaimana para ilmuwan sering melihat sesuatu hanya dalam satu bidang (sudut pandang) mikroskopik, melihat sesuatu hanya dalam satu dimensi saja, yang akan membuat pandangan menjadi timpang dan tidak seimbang. Atau melihat dengan sudut pandang teleskopik, yang juga akan membawa pada generalisasi yang terlalu umum sehingga justru terjadi reduksionisme yang simplistik.


Hidup dengan menggunakan visi teropong maupun mikroskop, beresiko membawa sudut pandangnya menjadi sempit dan tidak seimbang, karena hanya mementingkan satu aspek kehidupan dan kemudian mengabaikan aspek-aspek lainnya. Akibat dari ketidakproporsionalan cara pandang dan ketidakseimbangan ini jelas amat berbahaya: yaitu terbelahnya pribadi dan masyarakat, sebagaimana orang yang hidup dalam satu dimensi saja, atau seraya mengabaikan keutuhan kehidupan.

Sebagai contoh sederhana, misalnya seorang dokter yang hanya melihat dan mengobati penyakit dari gejala fisik tapi sama sekali mengabaikan faktor psikologis pasien. Atau seorang yang semata-mata melihat kepadatan penduduk hanya sebagai angka statistik dan mengabaikan psikologi masyarakat, sehingga diciptakannyalah transmigrasi sekelompok masyarakat berkepribadian keras, dipaksakan untuk hidup dalam wilayah masyarakat yang menjunjung tinggi kesopanan dan tatakrama. Pada ujungnya, dua kelompok masyarakat tadi justru saling membunuh satu sama lain. Di sepanjang zaman, manusia terlihat terbelenggu dalam kebodohan semacam ini, hanya saja dalam skala yang berbeda-beda.

Ada satu hal lain dalam dimensi kehidupan kita ketika seorang manusia tengah mencari apa yang disebut dengan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan, ternyata tidak dapat dijamin oleh limpahan harta duniawi ataupun kedudukan di mata manusia. Kebahagiaan yang sangat tidak dapat diukur oleh banyaknya rasa senang. Kebahagiaan sejati yang sebenarnya, bukanlah manusia yang dapat menciptakannya.

Kebahagiaan sejati akan dapat dirasakan ketika Dzat Yang Maha Kuasa pencipta takdir, pencipta kehidupan turun menganugerahkan kepada kita, yang kadangkala –kalau tidak disebut seringkali— hadir tidak lewat keadaan yang kasat mata, namun akan terasakan di dalam diri kita, di dalam batin manusia. Untuk itulah, ketika manusia menyadari ada rasa yang lain dalam dirinya, semestinya dia menyadari bahwa ada dimensi lain dalam dirinya yang disebut sebagai dimensi batiniah seorang manusia, yang tidak seorang pun dapat menyangkalnya. Sebuah dimensi yang seringkali akal manusia tidak mampu mencernanya dengan sempurna, sehingga melahirkan bentuk interpretasi yang beragam pula. Masing-masing menafsirkan sesuai dengan apa yang ada dalam benak mereka.

Maka tidaklah mengherankan apabila Allah sering mengungkapkan sindiran kepada manusia yang tidak mengakui adanya aspek batin dalam diri, yaitu apa yang disebut dengan qalbu nurani, yang letaknya pun bukanlah seperti apa yang digambarkan para ahli kedokteran berupa jantung, tapi berada dalam dimensi yang berbeda. Qalbu yang di dalamnya terletak aspek keimanan. Firmannya,

“Berkata seorang Arab badui ,‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah kamu telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam qalbu-mu.” (QS Al-Hujurat [49] : 14)

Qalbu juga yang menjadi tempat ujian dimana syetan yang terkutuk akan berjuang menggelincirkan dan menyesatkan manusia ke jalan kemurkaan Allah. Firmannya,

“….Bahkan qalbu mereka telah menjadi keras dan syetan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Al-An’aam [6] : 43)

“Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada qalbu mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah.” (QS at-Taubah [9] : 77)

Berdasarkan beberapa ayat di atas, dapat ditarik pelajarannya bahwa, apabila kita ingin agar Alquran mampu menyentuh qalbu manusia dengan sentuhan yang benar, dimana qalbu bisa memperoleh manfaat dari Alquran, maka kita wajib mengobatinya terlebih dahulu, dengan cara menjadikan qalbu itu beriman dengan sebenar-benarnya. Oleh karena itu –bertolak dari uraian di atas— titik perhatian yang seharusnya selalu menjadi pusat pemikiran dan kerja pendidik sejak awal adalah perbaikan qalbu (ishlah al-qalb). Kegagalan dalam hal ini merupakan indikator dari adanya gejala pembodohan pendidikan, ketidaktekunan murid, atau kesalahan sistemnya.

Untuk itulah Rasulullah selalu memberikan nasihat kepada para umatnya agar selalu berhati-hati dalam menggunakan qalbu-nya.

Demikian pula ketika kita mencoba mengkaji bentuk ibadah yang telah Nabi ajarkan bagi umatnya, ibadah yang memegang peranan yang sangat penting, khususnya sangat berpengaruh benar dalam upaya menumbuhkan keimanan dan ketakwaan seorang umat Muhammad Saw., yaitu ibadah shalat.

Ketika kita hanya mengkaji ibadah ini dari aspek aturan fikih belaka, atau aturan lahiriahnya, maka tidak heran apabila kita menemukan umat Islam merasa sangat berat, apalagi ibadah ini harus dilakukannya sepanjang hidupnya sehari lima kali. Pada era modern ini, kita bahkan banyak menemukan umat sudah tidak lagi merasa bergairah menjalankan ibadah shalat, kalau tidak ingin disebut jarang melengkapi lima waktu tersebut.

Mereka yang cukup rajin pun sudah sering merasa kekeringan dalam pelaksanaan shalat tersebut. Ini disebabkan karena dimensi batinnya telah lama tidak mereka rasakan. Shalat tidak lagi dijadikan sebagai sarana indikator kedekatan mereka dengan Allah. Shalat tidak lagi dikejar karena mereka merasakan tidak banyaknya manfaat yang bisa diperoleh ketika shalat, selain dari sekedar melaksanakan kewajiban saja.

Tapi akan dirasakan berbeda apabila setiap Muslim mencari manfaat apa sebenarnya yang dapat diperoleh ketika mereka menjalankan shalat? Mengapa Allah menurunkan bentuk kewajiban shalat tersebut kepada umat Islam? Apakah shalat itu merupakan kewajiban bagi manusia agar dapat menyembah Tuhannya belaka, tanpa ada faidah bagi penyembahnya itu sendiri? Apabila pertanyaan demi pertanyaan tersebut dapat terjawab, maka umat Islam tentunya akan dapat memaknai setiap gerak hidupnya dengan benar.

Mari kita perhatikan beberapa ungkapan Nabi selaku pembawa risalah kebenaran ini.

Rasulullah bersabda,

“Apabila shalat seseorang tidak mencegahnya dari berbuat keji dan munkar, maka ia tidak mendapat apa pun kecuali semakin bertambah jauh darinya.”

Nabi juga bersabda,

“Banyak orang yang melaksanakan shalat, tetapi yang diperolehnya tiada lain hanyalah letih dan payah, karena melaksanakan shalat itu sendiri.” (H.R. An-Nasa’i).

“Tiada diperoleh seorang hamba dari shalatnya kecuali apa ada dalam pikirannya pada saat melaksanakan shalat.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i).

Alangkah beruntungnya ketika seorang hamba memahami makna shalat sebenarnya sebagaimana Rasulullah ungkapkan,

“Ketika ia melaksanakan shalat, seorang hamba tengah bercakap mesra dan akrab dengan Tuhannya.” (HR Bukhari Muslim).

Inilah makna sebenarnya ibadah shalat, ibadah yang mengandung sebuah hubungan batin seorang hamba dengan Sang Pencipta, ibadah yang bernuansa sakral karena keyakinan manusia yang berada dalam dimensi batiniyah dalam mengadakan hubungan khusus dengan zat yang ghaib. Inilah makna ihsan.

Allah mewajibkan shalat kepada setiap umat Muhammad, karena dalam ibadah itu terkandung sebuah makna pengabdian yang tinggi seorang hamba kepada Penciptanya. Dalam ibadah shalat juga, seandainya dilakukan secara ikhlas, tidak karena semata-mata menjalankan beban kewajiban, akan diperoleh limpahan cahaya petunjuk dari Allah yang berfungsi menjernihkan hati nurani atau qalbu setiap hamba Allah yang beribadah secara ikhlas tersebut. Setiap rakaat shalat memiliki makna yang sangat mendalam karena hadirnya proses pensucian jiwa yang tadinya terkotori oleh tindakan dosa kita. Untuk itulah kering atau gersang tidaknya ibadah shalat kita bergantung dari seberapa besar motivasi kita dalam melaksakan ibadah tersebut. Sedangkan seringkali, untuk mendapatkan motivasi, kita membutuhkan ‘bahan bakar’ berupa pemahaman maupun keluasan cakrawala pandang untuk lebih memahami persoalan.

Dalam sisi dimensi batin lainnya, gerakan shalat memiliki makna simbolik yang sangat mendalam. Sejak posisi berdiri, ruku dan sujud merupakan sebuah proses perjalanan manusia dalam rangka mencari kebenaran, mencari pemilik kebenaran, proses pendakian menuju kasih sayang dan kedekatan Allah Azza wa Jalla. Simbol tersebut merupakan langkah yang harus kita tempuh dalam rangka upaya manusia agar dapat menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok akan lebih baik dari hari ini.

Posisi berdiri melambangkan posisi akal atau rasio berada di atas qalbu manusia, artinya pada awal kehidupan, kita menempatkan akal kita terlebih dahulu sebelum menggunakan qalbu, atau bahkan tidak menggunakan qalbunya. Kondisi ini pula yang dialami oleh sebagian besar umat Islam sekarang. Mereka begitu mengagungkan akal, aspek lahiriyah dan mengabaikan qalbu dalam memutuskan kebenaran sebuah persoalan.

Bagi seorang hamba yang berharap banyak memperoleh kebenaran, dia tidak akan pernah merasa puas dengan posisi pertama. Dia akan berjuang melangkah pada posisi berikutnya yaitu posisi ruku’, yaitu memposisikan akal sejajar dengan qalbu. Ada hubungan yang seimbang dalam pertimbangan tentang sebuah persoalan, melibatkan qalbu dan akal sejajar, saling membantu dan bekerja sama, saling menyediakan dan menyatukan data ‘bumi’ dan data ‘langit’ untuk diaplikasikan dalam persoalan kehidupannya.

Dan posisi yang terbaik dalam kehidupan manusia beriman adalah posisi sujud, yang disebutkan juga oleh Rasulullah sebagai posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya, yaitu ketika menempatkan qalbu di atas akalnya. Ketika akal atau aspek lahiriyah melihat sebuah persoalan, akal mencernanya dengan maksimal, baru qalbu yang telah hidup karena telah tersucikan dari dosa menjadi hakim, menjadi raja dalam memutuskan langkah berikutnya. Sedangkan pada tahap ini, rasio akan menjadi penasihat terdekat dari Qalbunya, dalam hal penerapan dan pengaplikasian petunjuk Allah ke alam mulk, atau alam fisik ini.




Nabi bersabda,


“Seorang hamba tidak akan pernah lebih dekat kepada Allah Swt. Kecuali ketika ia tengah bersujud.” (HR Muslim).

Saad bin Jubair pernah berkata,

“Tiada sesuatu pun di dunia ini yang kumintai pertolongan kecuali lewat sujud dalam shalat.”

Sedang ‘Uqbah bin Muslim berkata,

“Tiada sesuatu pada manusia yang lebih disukai Allah selain memperlama perjumpaan dengan-Nya. Dan tiada saat dalam kehidupan manusia yang teramat dekat dengan-Nya, kecuali ketika ia tersungkur bersujud kepada-Nya.”

Abu Hurairah ra. pernah berkata,

“Saat paling dekatnya seorang hamba kepada-Nya ialah ketika ia sedang bersujud, dan kemudian memperbanyak doa.”

Semua kata-kata tadi mengisyaratkan, bahwa untuk senantiasa ada dalam posisi terdekat dengan Allah bukanlah semata-mata kita harus sujud setiap saat. Hal ini, dalam dimensi yang lebih dalam, juga berarti seorang hamba akan senantiasa dalam keadaan yang terdekat dengan Allah ketika Qalbunya telah hidup dan suci, yang mampu menempatkan dirinya untuk berada dalam posisi diatas rasionya.

Demikianlah uraian yang sangat singkat dalam memaparkan aspek batiniyah dalam shalat, hanya sebagai contoh bahwa Allah sang pemilik segala ilmu, menempatkan semua isyarat mengenai diri-Nya, maupun petunjuk bagi hamba-Nya, di dalam segala hal di alam ini. Kompleksitas diri-Nya yang Maha Tinggi membuatnya mampu membuat segala hal mengisyaratkan dan menyimpan ilmu bagi manusia, dalam dimensi lahiriyah maupun batiniyahnya. Tentu, masih banyak lagi hikmah lain dari ibadah tersebut yang Allah ajarkan kepada setiap hamba-Nya yang yang khusus, yang Dia sucikan.

Wallahu a’lam bish-shawab.