Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Friday, October 1, 2010

MADAH CINTA - HAMKA

 v  Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.

v  Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. 

v  Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

v  Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.

v  Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping. Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.

v  Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.

v  Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.

v  Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.

v  Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dahsyatnya cinta!

v  Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.

v  Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.

v  Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.

v  Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.

v  Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

v  Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.

v  Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.

v  Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.

___________________________________________________________
*p/s: semoga diri kalian penuh dengan rasa CINTA terhadap ALLAH SWT, RASULULLAH SAW, Diri Sendiri, Keluarga, Teman-teman, saudara seIslam dan Ummah ini...

Wednesday, June 2, 2010

KISAH PANGLIMA (2)

AMIR SYUHADA

Untuk pertama kalinya ia tumpahkan airmata kesedihannya saat usianya belum genap sepuluh tahun. Saat itu, di depan matanya ia menyaksikan kedua orang tuanya dan ratusan ribu bangsanya dibantai dan diusir dari Deir Yasin. Itulah saat pertama ia mengenal langsung kekejaman Yahudi yang selama ini hanya didengarnya dari cerita ibunya, dan saat itu pula tergambar bayang-bayang penderitaan bangsanya Kemudian tangis kesedihan itu secara beruntun menerpanya, ketika Irgun membawa satu persatu orang-orang tercintanya tanpa pernah lagi kembali. Saat ia melepas suaminya pada perang Ramadhan (1973), saat itu Amir, putra mereka, baru saja melewati satu tahun usianya. Amir masih terlampau kecil untuk memahami, ketika suatu senja seseorang datang mengabarkan kesyahidan ayahnya.


Sudah terbayang masa depan hidupnya, seorang janda dan seorang bayi di tengah penindasan Yahudi. Saat itu tidak ada yang ingin dilakukannya kecuali menangis. Tapi tidak, dia tidak melakukan itu. Saat itulah ia memulai tekadnya untuk tidak ingin menambah kegembiraan orang-orang Yahudi dengan airmata kesedihannya. Lebih dari itu ia tidak ingin mengajari Amir menjadi pemuda yang lemah. Dan sejak saat itu pula, setiap belur kesedihan yang menerpa, digubahnya menjadi senandung-senandung jihad yang dia bisikkan ke telinga Amir, hingga memenuhi rongga dada anaknya. Dia masih bisa bertahan untuk tidak menangis saat pembataian Taal el-Zatar ataupun Sabra Shatila yang menghabisi kerabatnya yang tersisa. Masih disisakan sedikit harapan dalam dirinya demi seorang Amir putra tercintanya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan warisan paling berharga dari suaminya itu. Sekian tahun ia telah membendung tangis itu, tapi tidak untuk hari ini.

Kata-kata pemuda tanggung dihadapannya telah menjebol kekokohan benteng pertahanannya. Dicobanya untuk mengelak dan membujuk hatinya, bahwa yang didengarnya beberapa menit yang lalu hanyalah mimpi. Tapi sosok di depannnya teramat nyata untuk ia ingkari. Amir syuhada, pemuda tanggung didepannya itu, putra satu-satunya, kembali mengulang kata-katanya, "Bunda, ijinkan ananda pergi berjihad. "Suara itu terdengar lembut dan penuh harap, seperti lima belas tahun yang lalu ketika Amir kecil meminta baju buat berhari raya. Tapi suara itu kini memendam sebuah tekad dan keberanian, dan dia tahu bahwa dia tak kan mungkin sanggup menahan gelora itu. Wanita tua itu menarik nafas panjang menahan isak yang satu persatu saat keluar. Serasa masih terngiang di telinganya 23 tahun yang lalu, kalimat senada diucapkan suaminya. Dengan berat hati dilepasnya kepergian suaminya. Ia masih menyimpan sedikit harapan bahwa suaminya akan kembali, meski kenyataan yang terjadi tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkannya. Tapi kali ini hatinya teramat berat, karena ia tahu benar apa yang dimaksud dengan kata "jihad" oleh Amir anaknya. Baru dua hari yang lalu Amir dengan bersemangat bercerita tentang kawan-kawannya yang syahid dalam aksi bom syahadah. Itu artinya, ia harus mengubur seluruh harapan akan kembalinya putranya dengan selamat, bahkan sepotong tubuhnya sekalipun.

"Amir Syuhada" (pemimpin para syahid), perlahan diejanya nama putranya. Nama yang diberikan oleh suaminya. Nama yang menyimpan sebuah cita-cita amat dalam. "Aku tidak berharap dia menjadi orang terkenal di dunia karena memimpin sebuah angkatan perang, tapi aku ingin dia menjadi orang terkenal di akhirat karena memipin rombongan syuhada. Dia harus menjadi orang yang pertama menyambut setiap kali kesempatan jihad itu datang," begitulah harapan suaminya. Betapa cepat perjalanan hidup. Betapa cepat harapan-harapan berganti. Seminggu yang lalu, Amir dengan malu-malu mengungkap keinginannya untuk mengakhiri masa lajangnya dengan membina sebuah rumah tangga. Ya, Amir ingin menikah. Sudah terbayang seorang gadis cantik menjadi menantunya, bahkan sudah terbayang pula cucu-cucu yang akan meramaikan rumah gubuknya ini. Namun kehendak ternyata berkata lain. Bukan perlengkapan nikah yang dibawa pulang putranya hari ini. Tapi sepotong baju khusus dengan kabell-kabel di sana sini dan beberapa bungkusan aneh yang baru kemudian ia tahu berisi bom. Isaknya mulai terdengar saling memburu. Begitupun cairang bening di matanya dibiarkannya mengalir, tanpa usaha lagi untuk menahan. Amir pun terdiam mematung. Baru ketika ibunya mulai tenang, diraihnya tangan keriput itu dan digenggamnya penuh perasaan sambul berucap, "Bunda, ananda lakukan ini karena ananda ingin mewujukan apa yang selama ini menjadi do'a bunda terhadap ananda."

Sekilas wanita tua itu terhenyak mendengar penuturan anaknya, tapi ia tetap diam tak menyahut. Amir melanjutkan ucapannya, "Bukankah bunda yang setiap malam berdo'a agar ananda menjadi anak yang sholeh? Inilah ananda yang berusaha mewujudkan harapan bunda. Bukankah bunda selalu menasihati ananda untuk senantiasa istiqamah memegang panji da'wah ini, dan senantiasa memenuhi hidup dengan jihad dan pengorbanan? Menegakkan kalimat tauhid, melindungi kaum yang lemah, membela kebenaran dan keadilan? Bukankakah bunda selalu mengingatkan bahwa kemanisan iman hanya dapat dirasakan oleh orang yang menegakkan dia dalam dirinya, bahwa bahagia hanya dapat dirasakan oleh orang yang berjuang membela kebenaran dan keadilan, bahwa kemenangan dan kejayaan hakiki hanya akan diberikan pada pejuang yang telah berkorban, kuat menahan penderitaan dan kepapaan, bahwa ketabahan dan kesabaran berjuang hanya akan diberikan pada mu'min yang mendekatkan dirinya kepada Allah? Bukankah bunda yang berulangkali mengatakan hal itu? Inilah ananda Amir yang berusa menjalankan nasihat Bunda."

Amir mencoba untuk tetap tersenyum, sambil tangannya menggenggam telapak tua ibunya. Dulu ketika masih kecil ia suka merengek dan menarik-narik tangan itu jika menginginkan sesuatu. "Tapi aku tidak berdo'a agar kamu mati," perlahan ibunya bereaksi. Dan masih dengan tersenyum Amir berucap, "Bunda...," dengan gaya merajuk Amir menyebut ibunya dan melanjutkan ucapannya, "siapa yang mau mati?" Bunda tentu masih ingat, bagaimana ketika ananda masih usia 7 tahun. Jika ananda menangis, Bunda selalu menghibur dengan cerita tentang kepahlawanan ayah, tentang keberanian ayah dalam setiap medan tempur, tentang kisah kesyahidan ayah, dan bunda selalu mengakhirinya dengan membaca ayat, Janganlah kamu mengira bahwa mereka yang terbunuh di jalan Allah itu, namun sesungguhnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapatkan rizki. Bunda, ananda berjihad bukan untuk mati, tapi ananda berjihad untuk syahid, untuk kehidupan yang lebih abadi." "Tapi tidak dengan bunuh diri," ibunya menukas. "Bunuh diri? Siapa yang mengatakan itu pada Bunda," terdengar nada bicara Amir meninggi, ketika sadar dengan siapa ia bicara, kembali Amir melunakkan suaranya sambil mengulang pertanyaannya. "Siapa yang mengatakan itu pada Bunda?" tanpa menunggu jawaban, Amir melanjutkan, "Bunda.., Bunda tentu masih ingat ketika ananda masih kecil, bunda yang selalu mengiring tidur ananda dengan senandung jihad. Bunda yang menanam benih-benih keberanian itu dalam rongga dada ananda, Bunda yang telah menyalakan api revolusioner itu dalam jiwa ananda. Kini antarkanlah ananda pergi ke medan jihad dengan senandung itu, izinkan ananda membakar kesombongan Yahudi dengan api itu. Bunda, masih ingatkah Bunda akan senandung Khubaib bin Ady ra. sesaat menjelang digantung orang-orang kafir Quraisy?

Sekiranya Allah menghendaki keberkahan

Dengan menghancurlumatkan tubuhku

Aku tak peduli, asal aku mati sebagai Muslim

Untuk Allah-lah kematianku pasti.

"Sungguh Bunda, jika tegaknya kalimat Allah di bumi ini harus dibayar dengan cabikan- cabikan tubuh ananda, ananda tidak akan pernah mundur. Bunda pula yang berkisah tentang kepahlawanan Ikramah dalam perang Yarmuk, ketika ia berseru, "Siapa yang sedia berjanji setia kepadaku untuk mati?" Kemudian 400 mujahidin serentak menyambutnya, dan mereka tidak mundur sejengkal pun sampai menemui kesyahidan. Inikah yang hendak bunda katakan bunuh diri...? Tidak Bunda, ananda telah menjual diri ini pada Allah, biarkan ananda menepati janji." Sejenak ruang itu hening. Isakan wanita tua itupun sudah lama reda, hanya genangan bening yang masih tersisa di sudut matanya. Meski tanpa harap, dicobanya untuk terakhir kali membujuk putranya, seperti mengingatkan ia bertanya, "Bukankah beberapa waktu lalu kau telah berniat untuk menikah?" Masih dengan senyumnya, Amir menjawab, "Bunda, sekian lama ananda belajar tentang arti sebuah cinta. Dan ananda telah menemukan, bahwa cinta yang tertinggi hanyalah untuk Allah. Sekian lama ananda memendam rindu untuk bertemu Allah, dan saat ini kesempatan itu telah datang. Sungguh Bunda, ananda tidak ingin kehilangan kesempatan." Diucapkannnya kalimat terakhir dengan anda tegas.

Wanita tua itu kembali menarik nafas panjang. Ditatapnya pemuda tanggung di hadapanya, seakan dia ingin memastikan bahwa pemuda di hadapannya itu benar-benar Amir anaknya. Dia sebenarnya sudah menyadari sejak lama, bahwa saat-saat seperti ini pasti akan terjadi. Dia pun tahu tak seharusnya mencegah maksud putranya. Amir bukan lagi bocah kecil yang bisa dijewer telinganya kalau nakal, atapun dibujuk dengan sepotong kue agar tidak menangis. Amir kini telah tumbuh menjadi pemuda dewasa, bahkan mungkin terlalu dewasa untuk pemuda seusianya. Dia tahu bahwa kata-kata yang diucapkan Amir benar adanya. tapi dia merasa begitu berat untuk membujuk naluri keibuannya. Sejak Amir terlibat dengan berbagai aktivitas HAMAS, dia sebenarnya telah berusaha mencoba meyakinkan hatinya, bahwa Amir bukanlah miliknya. Benar, ia telah melahirkannya, memberinya kasih sayang, tapi ia sama sekali tidak berhak mendiktekan keinginannya. Benar ia telah memerikan rumah bagi raganya, tapi tidak pada jiwanya, karena jiwanya telah menjadi penghuni rumah masa depan yang kini tengah dirisaukannya. Amir telah menjadi milik zamannya, sejarahnya dan tantangannya.

Dia hanyalah sebatang busur, dan Amir adalah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian. Direntangkan-Nya busur itu dengan kekuasaan-Nya hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat. Meliuk dalam suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemahan. Sang Pemanah mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap. Dia seharusnya gembira, 24 tahun ini mendapatkan kesempatan menyertai perjalanan sejarah Amir. Dia seharunya bangga karena benih yang ia tanam lewat senandung- senandungnya telah tumbuh subur, dan kini saatnya berbuah. Tidak , dia tidak boleh terbawa perasaannya. Dia tidak boleh menghalangi buah yang telah ranum untuk dipetik. Di tatapnya wajah pemuda di hadapannya, sungguh tampan dan bercahaya, persis wajah asy-syahid suaminya. Sorot matanya tajam, menyimpan semangat yang bergelora. Sama sekali tak ditemukan keraguan di sana.

Perlahan tangan keriputnya meraba wajah itu. Wanita tua itu mencoba untuk tersenyum, yah, dia harus ikhlas. Dengan suara bergetar dia berkata, "Pergilah anakku, jangan kau cemaskan bunda. Simpan kesedihan dan derita bunda di kedalaman jiwamu. Jangan kau pergi jika masih ada setitik dendam, bersihkan niatmu hanya untuk meraih ridha Allah. Pancangkan tinggi-tinggi panji tauhid di bumi ini. Kalau memang hanya dengan cabikan tubuhmu ia akan tegak, bunda merelakanmu. Pergilah anakku, dan jangan kau kembali kepada bunda selama nyawamu masih tersisa..." Diciumnya dahi putra satu-satunya itu. Wanita itu tak lagi menangis. Dilepaskannya kepergian putranya dengan senyum keikhlasan. Matahari senja menyapu lorong-lorong Tel Aviv. Tidak ada yang memperdulikan ketika seorang pemuda tanggung berjalan menghampiri sebuah pos tentara Israel. Tanpa sebuah aba-aba, Bummm.., tubuh pemuda itupun meledak mengatarkannya menemui Rabbnya. Berjajar para bidadari berebut kekasih yang baru tiba, seorang pemuda tampan dengan gaun pengantin dari surga tampak berbahagia.

Lepas Isya' di sebuah perkampungan di jalur Gaza, seorang lelaki berjalan mengendap- endap, mengetuk pintu sebuah gubuk dengan hati-hati sambil mengucap salam. Wajah seorang wanita tua muncul menjawab salamnya. Tanpa menunggu lelaki itu mendahului berbicara, "Amir Syuhada telah syahid sore tadi. Dan hanya ini yang tersisa dari jasadnya, yang dititipkannya menjelang berangkat." Berkata demikian lelaki itu sambil memberikan sebuah mushaf mungil di tanggannya. Wanita tua mendekap mushaf itu didadanya, seperti ia mendekap Amir kecil menjelang tidurnya. Dia tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan yang dirasakannya hari ini. Seakan ada yang menuntun, dia berjalan menghampiri kamar putranya. Dengan hati-hati dikuakkannya pintu kayu yang menghalanginya. Sungguh, dia mencium bau harum di kamar itu. Bau harum yang khas keharuman kamar pengantin.

Ibunda...

Kau ucapkan selamat tinggal

tatkala aku berangkat berjihad

Dan kau katakan padaku

Jadilah singa yang mengamuk meraung

Kemudian aku berlalu

mencatat segala pembataian dengan darahku

Bunda jangan kau bersedih

Kini belengguku berat Bunda

Namun...kemauanku tak terkalahkan

Penjara dan siksaan mereka tak menakutkanku

Pijaran listrik tak kuasa menyengatku

Bunda jangan bersedih

Goncangku kanku jadikan pintu jahim

yang meledak menghantam para musuh

Betapapun kuatnya belenggu

Dengan sabar dan tekad bulat kurantas belengguku

Bunda jangan kau bersedih

Bersabarlah Bunda

Jika tiada lagi pertemuan

Dan semakin panjang malam mencekam

maka esok kita kan hidup mulia

Di atas negeri kita sendiri

Bunda...jangan kau bersedih

"Wahai, kaum muslimin! Lawan dan musuhmu berani menyerang dan menjajah kamu hanyalah karena Allah meninggalkan kamu. Janganlah kamu mengira bahwa musuhmu telah meraih kemenangan atas kamu tetapi sesungguhnya Allah Yang Maha Pelindung dan Maha Penolong telah berpaling dari kamu. Demi Allah, musuh-musuhmu bukannya kuat, tetapi umat Islam yang lemah." (Asy-Syahid Hasan al-Banna)

"Saya mengagumi seorang pemuda karena keberanian dan kepeloporannya dan saya mengagumi seorang pemudi karena adab dan sifat malunya. Sebab, keberanian adalah pelengkap akhlak dan sifat utama pemuda, sedangkan malu adalah kecantikan pemudi yang paling utama." (Mustafa Luthfi al-Manfaluthi)

Monday, May 31, 2010

KISAH PANGLIMA (1)


Dalam kegemparan terjadinya peperangan Yarmuk, salah seorang panglima Romawi yang bermana George memanggil Khalid bin Walid. Kedua orang panglima itu saling mendekat sampai kedua kepala kuda mereka saling bertemu. Kepada Khalid, George bertanya: "Wahai Khalid, aku meminta kamu berbicara dengan jujur dan jangan berdusta sedikitpun, kerana Tuhan Yang Maha Mulia tidak pernah berdusta, dan jangan pula kamu menipuku, karana sesungguhnya orang yang beriman itu tidak akan berdusta di sisi Allah."

"Tanyalah apa yang ingin engkau tanyakan," kata Khalid.

"Apakah Allah menurunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW sebuah pedang dari langit kemudian diberikannya kepadamu sehingga jika kamu pakai pedang itu untuk berperang, pasti kamu akan menang?"

"Tidak!" Jawab Khalid.

"Apakah sebabnya kamu digelar dengan Saifullah (Pedang Allah)?" Tanya George.

Khalid menjawab: "Ketika Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW, seluruh kaumnya sangat memusuhinya termasuk juga aku, aku adalah orang yang paling membencinya. Setelah Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepadaku, maka aku pun masuk Islam. Ketika aku masuk Islam Rasulullah SAW menerimaku dan memberi gelaran kepadaku "Saifullah" (pedang Allah)."

"Jadi tujuan kamu berperang ini untuk apa?" Tanya George. "Kami ingin mengajak kamu supaya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah dan kami juga ingin mengajak kamu untuk mempercayai bahwa segala apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW itu adalah benar." Jawab Khalid.

George bertanya: "Apakah hukumannya bila orang itu tidak mahu menerimanya?" Jawab Khalid: "Hukumannya adalah harus membayar jizyah, maka kami tidak akan memeranginya."

"Bagaimana kalau mereka tidak mahu membayar?" Tanya George.

"Kami akan mengumumkan perang kepadanya," kata Khalid bin Walid.

George bertanya: "Bagaimanakah kedudukannya jika orang masuk Islam pada hari ini?"

Khalid menjawab: "Di hadapan Allah SWT, kita akan sama semuanya, baik dia orang yang kuat, orang yang lemah, yang dahulu maupun yang kemudian masuk Islam."

"Apakah orang dahulu masuk Islam kedudukannya akan sama dengan orang yang baru masuk?" Tanya George.

Khalid menjawab: "Orang yang datang kemudian akan lebih tinggi kedudukannya dari orang yang terdahulu, sebab kami yang terlebih dahulu masuk Islam, menerima Islam itu ketika Rasulullah SAW masih hidup dan kami dapat menyaksikan turunnya wahyu kepada baginda. Sedangkan orang yang masuk Islam kemudian tidak menyaksikan apa yang telah kami saksikan. Oleh kerana itu siapa saja yang masuk Islam yang datang terakhir maka dia akan lebih mulia kedudukannya, sebab dia masuk Islam tanpa menyaksikan bukti-bukti yang lebih meyakinkannya terlebih dahulu."

George bertanya: "Apakah yang kamu katakan itu benar?" "Demi Allah, sesungguhnya apa yang aku katakan itu adalah benar,"jawab Khalid.

George berkata: "Kalau begitu aku akan percaya kepada apa yang kamu katakan itu, mulai saat ini aku bertaubat untuk tidak lagi memusuhi Islam dan aku menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam, wahai Khalid tolonglah ajarkan aku tentang Islam."

Lalu Khalid bin Walid membawa George ke dalam khemahnya, kemudian menuangkan air ke dalam timba untuk menyuruh George bersuci dan mengerjakan solat dua rakaat.

Ketika Khalid bersama dengan George masuk ke dalam khemah, maka tentara Romawi mengadakan serangan besar-besaran terhadap pertahanan umat Islam. Setelah selesai mengerjakan solat, maka Khalid bin Walid bersama dengan George dan kaum Muslimin lainnya meneruskan peperangan sampai matahari terbenam dan di saat itu kaum Muslimin mengerjakan solat Zohor dan Asar dengan isyarat saja.

Dalam pertempuran itu, George yang telah bergabung dengan barisan kaum Muslimin itu terbunuh, dan dia hanya baru mengerjakan solat dua rakaat bersama dengan Khalid bin Walid. Walaupun demikian, ia telah menyatakan keIslamannya dan berjanji untuk tidak akan kembali lagi kepada agama lamanya. Semoga Allah menempatkan George ke dalam golongan orang-orang yang mati syahid. Amin.

Thursday, April 1, 2010

Tokoh: Janji Allah Itu Benar.. Maka Nikmat Apa Lagi Yang Kamu Dustakan?


Teman Hasan Al-Banna, Farag Naggar ke rahmatullah


Dr. Muhammad Badi’ Abdul Majid Saamy, Mursyid Am Ke Lapan bagi jemaah Ikhwan Muslimin...

Monday, February 22, 2010

PENJARA HATI


Assalamualaikum. ..

Sangat tepat pesanan Hasan al-Hudhaibi;

“Penjara bukanlah tembok tebal atau jeriji besi. Penjara yang sebenarnya adalah keadaan dalam perasaan dan fikiran kalian”.

Ternyata sekalipun jasad para ulama’ terpenjara, namun perasaan dan fikiran mereka ternyata masih bebas merdeka. Pemerintah zalim gagal memenjarakan perasaan dan fikiran mereka. Sehinggakan para ulama’ yang dipenjara mampu menghasilkan buah tangan yang terlalu istimewa tatkala mendiami tirai besi untuk seluruh umat Islam yang tercinta.

Dairi asam garam perjalanan hidup Syeikh Abdul Aziz al-Badri penuh dengan warna-warni. Beliau tidak keberatan untuk mencoretkan kisah yang dihadapinya tatkala menulis kitab‘al-Islam Baina al-Ulama’ Wa al-Hukkam’. Pada muqaddimah kitab tersebut, beliau menceritakan segala-galanya; “Sesungguhnya aku (Sheikh Abdul Aziz al-Badri) ditahan secara paksa di rumahku selama setahun. (Zaman pemerintahan Abdul Karim Qasim pada 2 Disember 1959 dan dibebaskan pada 2 Disember 1960) Bagi aku penahanan ini merupakan satu nikmat Allah s.w.t kepada ku. Pada waktu itu, aku sempat menyelediki buku-buku sirah, sejarah dan sejarah hidup para ulama’ Islam. Aku lakukannya untuk mengetahui pendirian dan prinsip ulama’ salafussalih bersama pemerintah disepanjang kewujudan Daulah Islamiyyah sejak ia dibangunkan oleh penghulu kita Rasulullah s.a.w yang mulia di Madinah Al-Munawwarah sehinggalah orang-orang kafir menghapuskan Daulah Islamiyyah pada tahun 1343 Hijrah. Pengetahuan terhadap sejarah mereka yang merupakan pendorong untuk aku menulis pendirian itu samada secara ringkas dan menyeluruh serta aku mengumpulkannya dengan perkara yang termampu bagiku dan bantuan taufiq dari Allah s.w.t kepadaku.

Apabila aku ditahan buat kali keduanya, (Pada 7 Ogos 1961 dan dibebaskan pada hari pengampunan pada 4 Disember 1961), aku memohon pertolongan kepada Allah s.w.t agar mengemaskini tulisan ku ini dengan memilih perkara yang sesuai dan memberi komentar terhadap tulisannya agar penulisan ini dalam ruang lingkup perbincangan dan tidak keluar dari dasar penulisannya. ..”. Akhirnya dari penahanannya membuahkan kitab al-Islam Baina al-Ulama’ wa al-Hukkam.

Lebih hebat lagi dapat kita perhatikan pada seorang fuqaha' besar daripada al-Hanafiah; Syamsul A‘immah As-Sarkhasi. Beliau telah berjaya menghasilkan sebuah kitab fiqh yang mempunyai 30 jilid tatkala beliau dipenjarakan di penjara 'Bauzajund'. Kitab ini dihasilkan tanpa dirujuk mana-mana kitab-kitab lain. Bahkan kitab ini disiapkan dengan buah fikirannya dan disalin kembali oleh murid-muridnya yang berada di atas tembok penjara. Akhirnya kitab yang 30 jilid ini dapat disiapkan sehinggakan diakhir suatu bab dituliskan; "telah selesailah syarahan berhubung dengan 'al-aqrar' yang mengandungi pelbagai rahsia didalamnya, ia disiapkan oleh seorang yang tahanan yang dikelilingi oleh banduan". Betapa berkuasanya Allah Yang Maha Agung. Ketakjuban ini dihikayatkan dalam al-Fawaid al-Bahiyyah Fi Tarajim al-Hanafiah.

Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyyah tidak ketinggalan untuk membawa buah tangan dari penjara. Tatkala menempuh hidupnya di penjara Qal'ah yang menjadi tempat terakhir kehidupannya. Beliau mengisi waktu yang ada dengan beribadah kepada Allah s.w.t, membaca al-Quran. Bukan setakat itu, bahkan puntung-puntung kayu yang menjadi arang dijadikan pena bagi menulis kitab-kitab serta menjawab terhadap tuduhan yang dilemparkan oleh penentang-penentang nya. Namun setelah pemerintah mendapati sebahagian daripada kitab beliau mendapat sambutan, pemerintah pun menegah beliau dari menulis dan membuat sebarang kajian. Peristiwa ini disematkan dalam Tazkiratul Huffaz oleh Ibnu Abdul Hadi.

Suatu mutiara kata yang sangat bermakna pernah terbit dari mulut Imam Ibn Taimiyyah sebagaimana yang diceritakan oleh muridnya Imam Ibn Al-Qayyim Al-Jauzi yang turut dipenjarakan bersama beliau;

"Banduan yang sebenar ialah mereka yang hatinya terpenjara dari tuhannya, manakala orang tawanan yang sebenar ialah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya!".

Terdetik sejenak, adakah kita sekarang seorang banduan atau tawanan? Atau benar-benar bebas dan merdeka?

lawati:

Monday, June 1, 2009

Kekuatan Sebuah Doa


"Ya Allah, jangan kembalikan aku ke keluargakau, dan limpahkanlah kepadaku kesyahidan."
Doa itu keluar dari mulut `Amru bin Jamuh, ketika ia bersiap-siap mengenakan baju perang dan bermaksud berangkat bersama kaum Muslimin ke medan Uhud. Ini adalah kali pertama bagi `Amru terjun ke medan perang, karena dia kakinya pincang. Di dalam Al-Quran disebutkan: "Tiada dosa atas orang-orang buta, atas orang-orang pincang dan atas orang sakit untuk tidak ikut berperang." (Qs Al-Fath: 17)
Karena kepincangannya itu maka `Amru tidak wajib ikut berperang, di samping keempat anaknya telah pergi ke medan perang. Tidak seorangpun menduga `Amru dengan keadaannya yang seperti itu akan memanggul senjata dan bergabung dengan kaum Muslimin lainnya untuk berperang.
Sebenarnya, kaumnya telah mencegah dia dengan mengatakan: "Sadarilah hai `Amru, bahwa engkau pincang. Tak usahlah ikut berperang bersama Nabi saw."
Namun `Amru menjawab: "Mereka semua pergi ke surga, apakah aku harus duduk-duduk bersama kalian?"
Meski `Amru berkeras, kaumnya tetap mencegahnya pergi ke medan perang. Karena itu `Amru kemudian menghadap Rasulullah Saw dan berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah. Kaumku mencegahku pergi berperang bersama Tuan. Demi Allah, aku ingin menginjak surga dengan kakiku yang pincang ini."
"Engkau dimaafkan. Berperang tidak wajib atas dirimu." Kata Nabi mengingatkan.
"Aku tahu itu, wahai Rasulullah. Tetapi aku ingin berangkat ke sana." Kata `Amru tetap berkeras.
Melihat semangat yang begitu kuat, Rasulullah kemudian bersabda kepada kaum `Amru: "Biarlah dia pergi. Semoga Allah menganugerahkan kesyahidan kepadanya."
Dengan terpincang-pincang `Amru akhirnya ikut juga berperang di barisan depan bersama seorang anaknya. Mereka berperang dengan gagah berani, seakan-akan berteriak: "Aku mendambakan surga, aku mendambakan mati: sampai akhirnya ajal menemui mereka.
Setelah perang usai, kaum wanita yang ikut ke medan perang semuanya pulang. Di antara mereka adalah "Aisyah. Di tengah perjalanan pulang itu `Aisyah melihat Hindun, istri `Amru bin Jamuh sedang menuntun unta ke arah Madinah. `Aisyah bertanya: "Bagaimana beritanya?"
"Baik-baik , Rasulullah selamat Musibah yang ada ringan-ringan saja. Sedang orang-orang kafir pulang dengan kemarahan, "jawab Hindun.
"Mayat siapakah di atas unta itu?"
"Saudaraku, anakku dan suamiku."
"Akan dibawa ke mana?"
"Akan dikubur di Madinah."
Setelah itu Hindun melanjutkan perjalanan sambil menuntun untanya ke arah Madinah. Namun untanya berjalan terseot-seot lalu merebah.
"Barangkali terlalu berat," kata `Aisyah.
"Tidak. Unta ini kuat sekali. Mungkin ada sebab lain." Jawab Hindun.
Ia kemudian memukul unta tersebut sampai berdiri dan berjalan kembali, namun binatang itu berjalan dengan cepat ke arah Uhud dan lagi-lagi merebah ketika di belokkan ke arah Madinah. Menyaksikan pemandangan aneh itu, Hindun kemudian menghadap kepada Rasulullah dan menyampaikan peristiwa yang dialaminya: "Hai Rasulullah. Jasad saudaraku, anakku dan suamiku akan kubawa dengan unta ini untuk dikuburkan di Madinah. Tapi binatang ini tak mau berjalan bahkan berbalik ke Uhud dengan cepat."
Rasulullah berkata kepada Hindun: "Sungguh unta ini sangat kuat. Apakah suamimu tidak berkata apa-apa ketika hendak ke Uhud?"
"Benar ya Rasulullah. Ketika hendak berangkat dia menghadap ke kiblat dan berdoa: "Ya Allah, janganlah Engkau kembalikan aku ke keluargaku dan limpahkanlah kepadaku kesyahidan."
"Karena itulah unta ini tidak mau berangkat ke Medinah. Allah SWT tidak mau mengembalikan jasad ini ke Madinah" kata beliau lagi.
"Sesungguhnya di antara kamu sekalian ada orang-orang jika berdoa kepada Allah benar-benar dikabulkan. Di antara mereka itu adalah suamimu, `Amru bin Jumuh," sambung Nabi.
Setelah itu Rasulullah memerintahkan agar ketiga jasad itu dikuburkan di Uhud. Selanjutnya beliau berkata kepada Hindun: "Mereka akan bertemu di surga. `Amru bin Jumuh, suamimu; Khulad, anakmu; dan Abdullah, saudaramu."
"Ya Rasulullah. Doakan aku agar Allah mengumpulkan aku bersama mereka,: kata Hindun memohon kepada Nabi.

Saturday, November 29, 2008

Permulaan-mu Wahai Yang Membenarkan...

Abu Qahafah tawaf di Baitullah. Kelembutan, kebahagiaan dan kedamaian terpancar dari wajahnya. Dia terpandang Abdul Muttalib yang sedang duduk di bawah lindungan Ka’abah dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya serta sebahagian anak cucunya. Hamzah, anaknya yang masih kecil, berada di atas ribanya sambil bermain-main dengan janggut ayahnya itu. Menyedari kehadiran Abu Qahafah, ketua Quraisy itu terus menuju ke arahnya lantas menyambutnya dengan gembira.

Kegembirangan yang tergambar di wajah Abdul Muttalib sebenarnya membayangkan kegembiraan yang sememangnya ada pada dirinya. Abu Qahafah terkenangkan nasibnya. Dia terlalu ingin mempunyai anak tetapi keinginannya itu masih belum terkabul. Isterinya telah beberapa kali melahirkan anak sama ada lelaki atau perempuan, tetapi malangnya tiada seorang pun yang hidup.

Ketika itu Ka’abah dipenuhi oleh anak-anak dan budak-budak lelaki. Semua orang Quraisy mempunyai anak kecuali Abu Qahafah. Abdul Muttalib telah pun bercucu dan dapat bermain-main dengan mereka. Begitu juga Umaiyah. Walaupun telah hilang penglihatan, dia masih dapat mencium bau cucu-cucunya. Malah seorang daripada cucunya yang bernama Abu Sufian Bin Harb akan berkahwin tidak lama lagi. Sekiranya Allah masih memanjangkan umur Umaiyah dia akan sempat bertemu dengan cicitnya, cucu anaknya yang bernama Harb. Umaiyah akan bertawaf bersama cicitnya itu di Ka’abah. Ia adalah suatu impian mulia bagi setiap lelaki di Makkah. Abu Qahafah terfikir, dapatkah dia merasai keadaan seperti itu.

Uthman yang lebih dikenali dengan nama Abu Qahafah adalah daripada kabilah Tayim. Salasilah keturunannya bertemu dengan Bani Hasyim dan Bani Umaiyah melalui Ka’ab bin Lu’ai. Kabilah Tayim terkenal dengan sifat lemah lembut dan ramai penyair lahir daripada kalangan mereka. Kaum wanitanya dikenali dengan nama ‘Khazwah’ selepas berkahwin. Kabilah ini juga biasa berniaga tetapi perniagaan mereka tidaklah sebaik perniagaan yang dijalankan oleh Bani Hasyim dan Bani Umaiyah. Namun, ia cukup untuk mengukuhkan kabilah ini agar hidup mereka mulia walaupun tidak semewah orang kaya Quraisy yang lain.

Abu Qahafah sering duduk bersama-sama Abdul Muttalib dan Abdullah bin Jad’an dalam majlis yang mereka anjurkan. Dia menyertai majlis tersebut bukan kerana kefakirannya tetapi untuk menyertai jamuan dan untuk kegembiraan kaumnya. Majlis-majlis sebegitu merupakan keramaian di Makkah. Para ketua kaum berkumpul disitu untuk bertukar-tukar fikiran. Pada waktu itu jugalah biasanya disusun jadual kafilah-kafilah yang akan berangkat ke Basra, Manfun, San’a atau Hirah.

Abu Qahafah ingin hidup dalam ketenangan dan kedamaian. Walaupun hasratnya itu adalah sesuatu yang sukar untuk diperolehinya, dia tidak terburu-buru mendapatkannya. Dia juga bukanlah seorang yang tamak. Dia ingin hidup dalam kesejahteraan dan berdoa agar Allah memberinya zuriat yang dapat memenuhi kekosongan hidupnya. Tidak pernah terlintas di kepalanya dan tidak pernah terbayang di khayalannya untuk melihat salah seorang anaknya nanti menjadi ketua orang Quraisy. Dia pun berasa hairan bagaimana impian seperti itu tidak wujud dalam dirinya. Dia seorang lelaki yang bijak dan waras. Tidakkah dia ingin melihat salah seorang anaknya menjadi orang yang paling mulia di Makkah seperti Bani Hasyim dan Bani Umaiyah?

Dia melihat persaingan antara Abdul Muttalib dengan Umaiyah serta anak Harb. Apabila Bani Hasyim mengadakan jamuan untuk orang ramai, maka Bani Umaiyah juga segera melakukan perkara yang sama. Apabila Abdul Muttalib menolong seorang fakir atau menziarahi seorang pesakit, Harb segera memberi bantuan dan berziarah. Malah apabila seorang penyair memuji ketua Bani Hasyim atau salah seorang daripada anak-anaknya, penyair-penyair lain cuba memikat dengan memuji Bani Umaiyah dan menonjolkan kemuliaan mereka. Hal yang seperti ini suatu perkara yang biasa berlaku kepada kebanyakan orang Makkah tetapi Abu Qahafah tidak mahu melibatkan dirinya dengan perbuatan seperti itu.

Suatu ketika Bani Tayyim telah bergabung dengan Bani Abdu Manaf. Ketika itu hampir-hampir berlaku peperangan antara mereka dengan kaum bapa saudara mereka, Abd al-Dar. Mereka bertelagah tentang urusan kain penutup Ka’abah dan bendera Quraisy. Lelaki Bani Tayyim telah mencelupkan tangan mereka ke dalam pasu besar berisi wangian sambil bersumpah dan berjanji untuk memerangi musuh mereka. Mereka bersumpah dengan wangian itu untuk berperang. Mujurlah orang ramai berjaya mendamaikan mereka. Kalaulah peperangan itu benar-benar meletus tiada siapa yang tahu apa yang akan terjadi. Namun, perasaan dendam dan hasad dengki tetap terpahat kukuh di sanubari mereka.

Di sebalik perdamaian itu rupa-rupanya Allah telah memberikan mereka kecenderungan kepada kesejahteraan, bukan kecenderungan kepada peperangan yang sia-sia. Allah mahu menjaga anak cucu mereka supaya dapat berperang dan menumpahkan darah untuk risalah yang paling agung yang diberikan kepada manusia iaitu risalah langit.

Abu Qahafah gemar bersama-sama Abdul Muttalib. Dia telah biasa dengan kehidupannya dan memahami tabiatnya. Abdul Muttalib tidak suka berpura-pura dan bermuka-muka kepada masyarakatnya. Abdul Muttalib terkenal dengan peribadinya yang mulia, bersegera untuk membuat kebaikan dengan ilham daripada hatinya. Beliau tidak melakukan perkara-perkara dianggap keji oleh undang-undang dan adat mereka. Beliau tidak pernah minum arak dan mengunjungi rumah pelacuran kerana perbuatan tersebut boleh mencacatkan kemuliaan dan kehormatannya. Inilah yang membezakan beliau dengan Bani Umaiyah. Kebaikan yang dikerjakan oleh Bani Umaiyah bukan lahir daripada jiwa mereka tetapi semata-mata kerana persaingan antara mereka untuk mendapat kebesaran dan kemuliaan.

Abu Qahafah terikat di antara pembesar kaumnya dan kepercayaan masyarakatnya. Menurut kepercayaan masyarakat Makkah, anak yang dilahirkan oleh seorang wanita tidak akan hidup jika wanita itu melintasi pusara seorang pembesar Makkah yang terbunuh dengan tipu muslihat. Tetapi sekiranya dia memijak pusara tersebut, anaknya akan hidup. Dia benar-benar berharap agar anaknya hidup. Tetapi dimanakah pusara pembesar itu? Beliau ingin menyuruh isterinya memijak pusara tersebut sebanyak tujuh kali agar semua anaknya hidup. Kedukaan di atas kematian anak-anaknya itu telah memberi petunjuk kepadanya.

Pada waktu petang ketika Abu Qahafah beredar pulang ke rumahnya dia berkata:

“Bergembiralah ketika mereka berkata tinggallah (‘Amru bin Murrah) di dalam pusara.”

Abu Qahafah segera pulang. Dia mahu menepati janjinya dengan tukang tilik yang akan menziarahinya. Tukang tilik itu akan membuat pendinding bagi isterinya untuk menghalau jin dalam kandungannya yang hampir lahir.

Abu Qahafah masuk menemui isterinya. Dia tenang dalam kedamaian yang wujud. Isterinya duduk seraya meletakkan kepalanya di antara kedua tapak tangannya. Di wajahnya tergambar rasa takut dan bimbang. Tentunya dia begitu bimbang kalau-kalau sesuatu yang buruk akan menimpa janin yang mulia dan dapat dirasakan gerakannya di dalam perutnya. Dia seolah-olah tidak sabar menunggu kedatangan tukang tilik yang akan menuliskan untuknya tangkal azimat untuk memulih bayi yang dikandung agar tidak mati seperti abang-abangnya sebelum ini.

Setelah sembilan bulan mengandung, isteri Abu Qahafah pergi ke Ka’abah. Dia mahu berdoa kepada semua tuhan yang ada supaya memanjangkan umur bayinya. Dalam perjalanan untuk memulakan tawaf dari Hajar Aswad, dia melihat beberapa orang kanak-kanak kecil yang diserahkan oleh kaum keluarga mereka untuk berkhidmat kepada BaitulLah. Terlintas di hatinya untuk menazarkan bayi yang dikandungnya itu kepada Ka’abah bagi mencari keredhaan tuhan. Dia mengusap-usap tangkal yang tergantung di lehernya namun kegelisahan yang bersarang di hatinya tetap tidak hilang. Malah setiap kali dia menyentuhnya, dia seolah-olah mendengar suara-suara yang menyeru agar anak yang dikandungnya itu diserahkan kepada BaitulLah.

“Ya Tuhan, aku menyerahkan kepadamu apa yang ada di dalam perutku. Panjangkanlah umurnya dan kekalkanlah dia bersamaku.” Doa isteri Abu Qahafah dengan cucuran air mata sambil menghadap ke Ka’abah.

Waktunya untuk bersalin semakin hampir. Wanita-wanita Bani Tayim datang menemuinya dengan wajah yang berseri-seri. Bibir mereka menguntum senyuman untuk memberikan semangat kepadanya walaupun di dada mereka terdapat kebimbangan. Mereka takut sekiranya bayi tersebut juga mati sebagaimana anak-anak sebelumnya. Seorang wanita daripada kaum keluarganya menghampiri Abu Qahafah.

“Sekiranya anak yang dilahirkan lelaki, apakah nama yang akan awak berikan?” Wanita itu bertanya.
“Abdul Ka’abah.” Abu Qahafah menjawab dengan nada yang agak serba salah.
“Kalau dia perempuan?”
Mendengar soalan wanita itu, wajahnya bertukar serta-merta. Muram. Kedukaan tergambar di wajahnya.
“Aku belum memikirkannya lagi…”jawab Abu Qahafah, acuh tak acuh.

Suara tangisan bayi kedengaran. Serta-merta Abu Qahafah bangun dari tempatnya. Dia mendongak ke langit. Dia berdoa kepada tuhannya semoga anaknya yang dilahirkannya itu seorang lelaki supaya dia dapat mewarisinya dan mewarisi keluarga Tayim. Perempuan itu pun segera bangun dan bergegas untuk memberitahu perkhabaran yang ditunggu-tunggu.

Abu Qahafah semakin tidak sabar menunggu. Perempuan itu datang dengan wajah yang memancarkan kegembiraan.
“Bayi itu lelaki! Bayi itu lelaki!” Wanita itu berkata dengan amat gembira.

Kegembiraan menyelubungi Abu Qahafah. Dia terlalu gembira. Dia tidak mampu untuk bertenang atau duduk tetap di situ sehinggalah dia diminta untuk masuk melihat anaknya. Hatinya gementar, dia terlalu suka dan gembira.

Dia merenung isterinya. Dia merenung bayi yang sedang tidur di sisinya. Rasa kasih dan sayang menyelubungi jiwanya. Dia berasa lemah untuk menarik rasa kasih sayang tersebut lantas dia mengucup dahi bayinya itu. Kucupan yang meninggalkan perasaan yang halus dalam jiwanya dan sudut hatinya.

Wajah isterinya yang layu kembali berseri. Bibirnya mengukir senyuman yang menawan. Dia berpaling ke arah bayi lelakinya yang dikasihi.

“Comelnya bayi ini, bukankah begitu?” Dia bersuara lagi.
“Ya, memang comel.” Abu Qahafah mengiakan sambil menganggukkan kepalanya.

Dia sungguh gembira dengan kelahiran anaknya itu, seolah-olah dia memperolehi sesuatu yang paling berharga.

Beberapa hari berlalu. Isteri Abu Qahafah gembira bersama bayinya. Namun, kebimbangan menjelma dihatinya. Memikirkam nasib yang menimpa anak-anaknya, bayi itu didakapnya ke dada seolah-olah dia menjaganya dari bahaya. Namun, dia sedar bahawa semua itu tidak mencukupi. Oleh itu dia membawanya ke Ka’abah lantas berdoa.

“Ya Allah, lepaskanlah hamba-Mu daripada kematian, lalu berikanlah dia kepadaku.”

Ketakutannya berkurangan sedikit demi sedikit. Jiwanya semakin damai, tenang dan aman. Harapan kembali tumbuh di hati yang sebelumnya sentiasa bimbang. Dia merenung wajah bayinya. Tiba-tiba wajahnya bercahaya dengan senyuman. Melihatkan keadaan itu, dia segera mendodoikan bayi itu. “Wahai yang merdeka, wahai yang merdeka … dan mempunyai rupa yang elok.”

Dia merasakan seolah-olah alam semuanya menyanyi riang, melebihi nyanyian setiap penyanyi Makkah. Nyanyian para penyanyi itu masuk dari telinga terus ke hati tetapi nyanyian alam yang didengarnya ini adalah dari satu roh ke satu roh dan dari hati yang wujud ke hati yang penuh kasih sayang.

Pada hari kelapan, Abu Qahafah membawa anaknya itu tawaf mengelilingi Ka’abah. Kemudian dia membawanya masuk ke dalam Ka’abah dan berdoa kepada Hubal agar memanjangkan umur anaknya. Dia berdoa dengan linangan air mata sehinggalah air matanya itu menitis ke atas bayi yang didakapnya dengan kasih mesra.

Abu Qahafah mengadakan kenduri untuk Bani Tayim. Para tetamu, lelaki dan perempuan datang meraikan kelahiran anaknya itu. “Siapa namanya?” Wanita-wanita itu bertanya kepada ibunya. “’Atiq”. Jawab si ibu sambil bibirnya menguntum senyuman yang manis.

Wajahnya bersinar dengan kegembiraan. Kaum lelaki juga bertanya kepada bapanya soalan yang sama. “Abdul Ka’abah.” Jawab Abu Qahafah dengan senang hati.

Masa berlalu dan bayi itu pun meningkat dewasa. Namun, dia tidak dikenali dengan nama ‘Atiq dan tidak juga dengan nama Abdul Ka’abah. Sebaliknya dikenali dengan nama Abu Bakar as-Siddiq.

p/s: Ka'abah pada masa itu masih dipenuhi dengan berhala-berhala. Begitu juga masyarakat Mekah masih diselubungi oleh kehidupan Jahiliah sebelum kedatangan Islam.

Thursday, November 20, 2008

AMANAT SYEIKH AHMAD YASIN



Syeikh Ahmad Yasin yang begitu kecewa dan sedih dengan sikap bangsa Arab telah berkata: “Tidakkah kamu semua lihat wahai bangsa Arab, sudah sampai ke tahap mana keadaan ini?” “Sesungguhnya aku, seorang yang tua dan lemah, tidak mampu memegang pena dan menyandang senjata dengan tanganku yang sudah mati (lumpuh).

Aku bukan seorang penceramah yang lantang yang mampu menggegarkan semua tempat dengan suaraku (yang perlahan ini). Aku tidak mampu untuk ke mana-mana tempat bagi memenuhi hajatku kecuali jika mereka menggerakkan (kerusi roda) ku. Aku, yang sudah beruban putih dan berada di penghujung usia. Aku, yang diserang pelbagai penyakit dan ditimpa bermacam-macam penderitaan. Adakah segala macam penyakit dan kecacatan yang menimpa diriku turut menimpa bangsa Arab sehingga menjadikan mereka begitu lemah. Adakah kalian semua begitu wahai bangsa Arab, kalian diam membisu dan lemah atau adakah kalian semua telah mati binasa”.

“Adakah hati kalian tidak bergelora sehingga tiada satu golongan pun yang bangkit menyatakan kemarahan kerana Allah..... Tiada satu pun kumpulan (daripada kalangan kalian) yang bangkit menentang musuh-musuh Allah yang telah mengisytiharkan perang antarabangsa ke atas kami dan menukarkan kami daripada golongan mulia kepada golongan yang dianiaya dan dizalimi oleh pembunuh dan penjenayah serta pengganas...”

“Tidak adakah yang mahu bangkit menentang musuh-musuh yang telah berjanji setia untuk menghancurkan dan menghukum kami. Tidak malukah umat ini terhadap dirinya yang dihina sedangkan padanya ada kemuliaan. Tidak malukah negara-negara umat Islam membiarkan penjenayah Zionis dan sekutu antarabangsanya tanpa memandang kami dengan pandangan yang mampu mengesat air mata kami dan meringankan beban kami. Adakah pertubuhan-pertubuhan umat ini, pasukan tenteranya, parti-partinya, badan-badannya, dan tokoh-tokohnya tidak mahu marah kerana Allah dengan kemarahan sebenarnya lalu mereka keluar beramai-ramai sambil melaungkan; “Ya Allah, perkuatkanlah saudara-saudara kami yang sedang dipatah-patahkan tulang temulang mereka, kasihanilah saudara-saudara kami yang lemah ditindas dan bantulah hamba-hambamu yang beriman!”

Adakah kalian tidak memiliki kekuatan berdoa untuk kami? Seketika nanti kalian akan mendengar tentang peperangan besar ke atas kami dan ketika itu kami akan terus berdiri dengan tertulis di dahi kami bahawa kami akan mati berdiri dan berdepan dengan musuh, bukan mati dalam keadaan melarikan diri. Akan mati bersama-sama kami anak-anak kami, wanita-wanita, orang-orang tua dan pemuda-pemuda. Kami jadikan di kalangan mereka sebagai kayu bakaran buat umat yang diam dalam kebodohan! Janganlah kalian menanti hingga kami menyerah atau mengangkat bendera putih, kerana ketahuilah bahawa kami tetap akan mati walaupun kami berbuat demikian (menyerah). Biarkan kami mati dalam kemuliaan sebagai mujahidin dan syuhada’.

Jika kalian mahu, marilah bersama-sama kami sedaya mungkin. Tugas membela kami terpikul di bahu kalian. Kalian juga sepatutnya menyaksikan kematian kami dan menghulurkan simpati. Sesungguhnya Allah akan menghukum sesiapa sahaja yang lalai daripada menunaikan kewajipan yang diamanahkan. Kami juga berharap kepada kalian supaya jangan menjadi musuh yang menambah penderitaan kami. Demi Allah, jangan menjadi musuh kepada kami wahai pemimpin-pemimpin umat ini, wahai bangsa umat ini.”

“Ya Allah, kami mengadu kepadaMu... kami mengadu kepadaMu... kami mengadu kepadaMu... kami mengadu kepadaMu lemahnya kami dan kurangnya helah kami. Demikianlah kami di hadapan manusia. Engkaulah Tuhan kepada orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhan kami. Kepada siapa Engkau tinggalkan kami. Atau kepada musuh yang berkuasa ke atas kami?Ya Allah, kami mengadu kepadaMu darah-darah yang tertumpah, maruah yang ternoda, kehormatan yang diperkosa, kanak-kanak yang diyatimkan, wanita-wanita yang dijandakan, ibu-ibu yang kehilangan anak, rumah-rumah yang diruntuhkan, tanaman-tanaman yang dirosakkan.

Ya Allah, kami mengadu kepadaMu berseleraknya kesatuan umat kami, berpecahnya perpaduan kami, berbagai-bagainya haluan kami, terbelakangnya kami. Kami mengadu kepadaMu betapa lemahnya kaum kami, betapa tidak bermayanya umat di sekeliling kami dan betapa berjayanya musuh-musuh kami...”

-Petikan Dari Buku : Gerakan Freemasonry – Musuh Dalam Menghancurkan Islam-