Wednesday, June 2, 2010

KISAH PANGLIMA (2)

AMIR SYUHADA

Untuk pertama kalinya ia tumpahkan airmata kesedihannya saat usianya belum genap sepuluh tahun. Saat itu, di depan matanya ia menyaksikan kedua orang tuanya dan ratusan ribu bangsanya dibantai dan diusir dari Deir Yasin. Itulah saat pertama ia mengenal langsung kekejaman Yahudi yang selama ini hanya didengarnya dari cerita ibunya, dan saat itu pula tergambar bayang-bayang penderitaan bangsanya Kemudian tangis kesedihan itu secara beruntun menerpanya, ketika Irgun membawa satu persatu orang-orang tercintanya tanpa pernah lagi kembali. Saat ia melepas suaminya pada perang Ramadhan (1973), saat itu Amir, putra mereka, baru saja melewati satu tahun usianya. Amir masih terlampau kecil untuk memahami, ketika suatu senja seseorang datang mengabarkan kesyahidan ayahnya.


Sudah terbayang masa depan hidupnya, seorang janda dan seorang bayi di tengah penindasan Yahudi. Saat itu tidak ada yang ingin dilakukannya kecuali menangis. Tapi tidak, dia tidak melakukan itu. Saat itulah ia memulai tekadnya untuk tidak ingin menambah kegembiraan orang-orang Yahudi dengan airmata kesedihannya. Lebih dari itu ia tidak ingin mengajari Amir menjadi pemuda yang lemah. Dan sejak saat itu pula, setiap belur kesedihan yang menerpa, digubahnya menjadi senandung-senandung jihad yang dia bisikkan ke telinga Amir, hingga memenuhi rongga dada anaknya. Dia masih bisa bertahan untuk tidak menangis saat pembataian Taal el-Zatar ataupun Sabra Shatila yang menghabisi kerabatnya yang tersisa. Masih disisakan sedikit harapan dalam dirinya demi seorang Amir putra tercintanya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan warisan paling berharga dari suaminya itu. Sekian tahun ia telah membendung tangis itu, tapi tidak untuk hari ini.

Kata-kata pemuda tanggung dihadapannya telah menjebol kekokohan benteng pertahanannya. Dicobanya untuk mengelak dan membujuk hatinya, bahwa yang didengarnya beberapa menit yang lalu hanyalah mimpi. Tapi sosok di depannnya teramat nyata untuk ia ingkari. Amir syuhada, pemuda tanggung didepannya itu, putra satu-satunya, kembali mengulang kata-katanya, "Bunda, ijinkan ananda pergi berjihad. "Suara itu terdengar lembut dan penuh harap, seperti lima belas tahun yang lalu ketika Amir kecil meminta baju buat berhari raya. Tapi suara itu kini memendam sebuah tekad dan keberanian, dan dia tahu bahwa dia tak kan mungkin sanggup menahan gelora itu. Wanita tua itu menarik nafas panjang menahan isak yang satu persatu saat keluar. Serasa masih terngiang di telinganya 23 tahun yang lalu, kalimat senada diucapkan suaminya. Dengan berat hati dilepasnya kepergian suaminya. Ia masih menyimpan sedikit harapan bahwa suaminya akan kembali, meski kenyataan yang terjadi tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkannya. Tapi kali ini hatinya teramat berat, karena ia tahu benar apa yang dimaksud dengan kata "jihad" oleh Amir anaknya. Baru dua hari yang lalu Amir dengan bersemangat bercerita tentang kawan-kawannya yang syahid dalam aksi bom syahadah. Itu artinya, ia harus mengubur seluruh harapan akan kembalinya putranya dengan selamat, bahkan sepotong tubuhnya sekalipun.

"Amir Syuhada" (pemimpin para syahid), perlahan diejanya nama putranya. Nama yang diberikan oleh suaminya. Nama yang menyimpan sebuah cita-cita amat dalam. "Aku tidak berharap dia menjadi orang terkenal di dunia karena memimpin sebuah angkatan perang, tapi aku ingin dia menjadi orang terkenal di akhirat karena memipin rombongan syuhada. Dia harus menjadi orang yang pertama menyambut setiap kali kesempatan jihad itu datang," begitulah harapan suaminya. Betapa cepat perjalanan hidup. Betapa cepat harapan-harapan berganti. Seminggu yang lalu, Amir dengan malu-malu mengungkap keinginannya untuk mengakhiri masa lajangnya dengan membina sebuah rumah tangga. Ya, Amir ingin menikah. Sudah terbayang seorang gadis cantik menjadi menantunya, bahkan sudah terbayang pula cucu-cucu yang akan meramaikan rumah gubuknya ini. Namun kehendak ternyata berkata lain. Bukan perlengkapan nikah yang dibawa pulang putranya hari ini. Tapi sepotong baju khusus dengan kabell-kabel di sana sini dan beberapa bungkusan aneh yang baru kemudian ia tahu berisi bom. Isaknya mulai terdengar saling memburu. Begitupun cairang bening di matanya dibiarkannya mengalir, tanpa usaha lagi untuk menahan. Amir pun terdiam mematung. Baru ketika ibunya mulai tenang, diraihnya tangan keriput itu dan digenggamnya penuh perasaan sambul berucap, "Bunda, ananda lakukan ini karena ananda ingin mewujukan apa yang selama ini menjadi do'a bunda terhadap ananda."

Sekilas wanita tua itu terhenyak mendengar penuturan anaknya, tapi ia tetap diam tak menyahut. Amir melanjutkan ucapannya, "Bukankah bunda yang setiap malam berdo'a agar ananda menjadi anak yang sholeh? Inilah ananda yang berusaha mewujudkan harapan bunda. Bukankah bunda selalu menasihati ananda untuk senantiasa istiqamah memegang panji da'wah ini, dan senantiasa memenuhi hidup dengan jihad dan pengorbanan? Menegakkan kalimat tauhid, melindungi kaum yang lemah, membela kebenaran dan keadilan? Bukankakah bunda selalu mengingatkan bahwa kemanisan iman hanya dapat dirasakan oleh orang yang menegakkan dia dalam dirinya, bahwa bahagia hanya dapat dirasakan oleh orang yang berjuang membela kebenaran dan keadilan, bahwa kemenangan dan kejayaan hakiki hanya akan diberikan pada pejuang yang telah berkorban, kuat menahan penderitaan dan kepapaan, bahwa ketabahan dan kesabaran berjuang hanya akan diberikan pada mu'min yang mendekatkan dirinya kepada Allah? Bukankah bunda yang berulangkali mengatakan hal itu? Inilah ananda Amir yang berusa menjalankan nasihat Bunda."

Amir mencoba untuk tetap tersenyum, sambil tangannya menggenggam telapak tua ibunya. Dulu ketika masih kecil ia suka merengek dan menarik-narik tangan itu jika menginginkan sesuatu. "Tapi aku tidak berdo'a agar kamu mati," perlahan ibunya bereaksi. Dan masih dengan tersenyum Amir berucap, "Bunda...," dengan gaya merajuk Amir menyebut ibunya dan melanjutkan ucapannya, "siapa yang mau mati?" Bunda tentu masih ingat, bagaimana ketika ananda masih usia 7 tahun. Jika ananda menangis, Bunda selalu menghibur dengan cerita tentang kepahlawanan ayah, tentang keberanian ayah dalam setiap medan tempur, tentang kisah kesyahidan ayah, dan bunda selalu mengakhirinya dengan membaca ayat, Janganlah kamu mengira bahwa mereka yang terbunuh di jalan Allah itu, namun sesungguhnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapatkan rizki. Bunda, ananda berjihad bukan untuk mati, tapi ananda berjihad untuk syahid, untuk kehidupan yang lebih abadi." "Tapi tidak dengan bunuh diri," ibunya menukas. "Bunuh diri? Siapa yang mengatakan itu pada Bunda," terdengar nada bicara Amir meninggi, ketika sadar dengan siapa ia bicara, kembali Amir melunakkan suaranya sambil mengulang pertanyaannya. "Siapa yang mengatakan itu pada Bunda?" tanpa menunggu jawaban, Amir melanjutkan, "Bunda.., Bunda tentu masih ingat ketika ananda masih kecil, bunda yang selalu mengiring tidur ananda dengan senandung jihad. Bunda yang menanam benih-benih keberanian itu dalam rongga dada ananda, Bunda yang telah menyalakan api revolusioner itu dalam jiwa ananda. Kini antarkanlah ananda pergi ke medan jihad dengan senandung itu, izinkan ananda membakar kesombongan Yahudi dengan api itu. Bunda, masih ingatkah Bunda akan senandung Khubaib bin Ady ra. sesaat menjelang digantung orang-orang kafir Quraisy?

Sekiranya Allah menghendaki keberkahan

Dengan menghancurlumatkan tubuhku

Aku tak peduli, asal aku mati sebagai Muslim

Untuk Allah-lah kematianku pasti.

"Sungguh Bunda, jika tegaknya kalimat Allah di bumi ini harus dibayar dengan cabikan- cabikan tubuh ananda, ananda tidak akan pernah mundur. Bunda pula yang berkisah tentang kepahlawanan Ikramah dalam perang Yarmuk, ketika ia berseru, "Siapa yang sedia berjanji setia kepadaku untuk mati?" Kemudian 400 mujahidin serentak menyambutnya, dan mereka tidak mundur sejengkal pun sampai menemui kesyahidan. Inikah yang hendak bunda katakan bunuh diri...? Tidak Bunda, ananda telah menjual diri ini pada Allah, biarkan ananda menepati janji." Sejenak ruang itu hening. Isakan wanita tua itupun sudah lama reda, hanya genangan bening yang masih tersisa di sudut matanya. Meski tanpa harap, dicobanya untuk terakhir kali membujuk putranya, seperti mengingatkan ia bertanya, "Bukankah beberapa waktu lalu kau telah berniat untuk menikah?" Masih dengan senyumnya, Amir menjawab, "Bunda, sekian lama ananda belajar tentang arti sebuah cinta. Dan ananda telah menemukan, bahwa cinta yang tertinggi hanyalah untuk Allah. Sekian lama ananda memendam rindu untuk bertemu Allah, dan saat ini kesempatan itu telah datang. Sungguh Bunda, ananda tidak ingin kehilangan kesempatan." Diucapkannnya kalimat terakhir dengan anda tegas.

Wanita tua itu kembali menarik nafas panjang. Ditatapnya pemuda tanggung di hadapanya, seakan dia ingin memastikan bahwa pemuda di hadapannya itu benar-benar Amir anaknya. Dia sebenarnya sudah menyadari sejak lama, bahwa saat-saat seperti ini pasti akan terjadi. Dia pun tahu tak seharusnya mencegah maksud putranya. Amir bukan lagi bocah kecil yang bisa dijewer telinganya kalau nakal, atapun dibujuk dengan sepotong kue agar tidak menangis. Amir kini telah tumbuh menjadi pemuda dewasa, bahkan mungkin terlalu dewasa untuk pemuda seusianya. Dia tahu bahwa kata-kata yang diucapkan Amir benar adanya. tapi dia merasa begitu berat untuk membujuk naluri keibuannya. Sejak Amir terlibat dengan berbagai aktivitas HAMAS, dia sebenarnya telah berusaha mencoba meyakinkan hatinya, bahwa Amir bukanlah miliknya. Benar, ia telah melahirkannya, memberinya kasih sayang, tapi ia sama sekali tidak berhak mendiktekan keinginannya. Benar ia telah memerikan rumah bagi raganya, tapi tidak pada jiwanya, karena jiwanya telah menjadi penghuni rumah masa depan yang kini tengah dirisaukannya. Amir telah menjadi milik zamannya, sejarahnya dan tantangannya.

Dia hanyalah sebatang busur, dan Amir adalah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian. Direntangkan-Nya busur itu dengan kekuasaan-Nya hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat. Meliuk dalam suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemahan. Sang Pemanah mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap. Dia seharusnya gembira, 24 tahun ini mendapatkan kesempatan menyertai perjalanan sejarah Amir. Dia seharunya bangga karena benih yang ia tanam lewat senandung- senandungnya telah tumbuh subur, dan kini saatnya berbuah. Tidak , dia tidak boleh terbawa perasaannya. Dia tidak boleh menghalangi buah yang telah ranum untuk dipetik. Di tatapnya wajah pemuda di hadapannya, sungguh tampan dan bercahaya, persis wajah asy-syahid suaminya. Sorot matanya tajam, menyimpan semangat yang bergelora. Sama sekali tak ditemukan keraguan di sana.

Perlahan tangan keriputnya meraba wajah itu. Wanita tua itu mencoba untuk tersenyum, yah, dia harus ikhlas. Dengan suara bergetar dia berkata, "Pergilah anakku, jangan kau cemaskan bunda. Simpan kesedihan dan derita bunda di kedalaman jiwamu. Jangan kau pergi jika masih ada setitik dendam, bersihkan niatmu hanya untuk meraih ridha Allah. Pancangkan tinggi-tinggi panji tauhid di bumi ini. Kalau memang hanya dengan cabikan tubuhmu ia akan tegak, bunda merelakanmu. Pergilah anakku, dan jangan kau kembali kepada bunda selama nyawamu masih tersisa..." Diciumnya dahi putra satu-satunya itu. Wanita itu tak lagi menangis. Dilepaskannya kepergian putranya dengan senyum keikhlasan. Matahari senja menyapu lorong-lorong Tel Aviv. Tidak ada yang memperdulikan ketika seorang pemuda tanggung berjalan menghampiri sebuah pos tentara Israel. Tanpa sebuah aba-aba, Bummm.., tubuh pemuda itupun meledak mengatarkannya menemui Rabbnya. Berjajar para bidadari berebut kekasih yang baru tiba, seorang pemuda tampan dengan gaun pengantin dari surga tampak berbahagia.

Lepas Isya' di sebuah perkampungan di jalur Gaza, seorang lelaki berjalan mengendap- endap, mengetuk pintu sebuah gubuk dengan hati-hati sambil mengucap salam. Wajah seorang wanita tua muncul menjawab salamnya. Tanpa menunggu lelaki itu mendahului berbicara, "Amir Syuhada telah syahid sore tadi. Dan hanya ini yang tersisa dari jasadnya, yang dititipkannya menjelang berangkat." Berkata demikian lelaki itu sambil memberikan sebuah mushaf mungil di tanggannya. Wanita tua mendekap mushaf itu didadanya, seperti ia mendekap Amir kecil menjelang tidurnya. Dia tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan yang dirasakannya hari ini. Seakan ada yang menuntun, dia berjalan menghampiri kamar putranya. Dengan hati-hati dikuakkannya pintu kayu yang menghalanginya. Sungguh, dia mencium bau harum di kamar itu. Bau harum yang khas keharuman kamar pengantin.

Ibunda...

Kau ucapkan selamat tinggal

tatkala aku berangkat berjihad

Dan kau katakan padaku

Jadilah singa yang mengamuk meraung

Kemudian aku berlalu

mencatat segala pembataian dengan darahku

Bunda jangan kau bersedih

Kini belengguku berat Bunda

Namun...kemauanku tak terkalahkan

Penjara dan siksaan mereka tak menakutkanku

Pijaran listrik tak kuasa menyengatku

Bunda jangan bersedih

Goncangku kanku jadikan pintu jahim

yang meledak menghantam para musuh

Betapapun kuatnya belenggu

Dengan sabar dan tekad bulat kurantas belengguku

Bunda jangan kau bersedih

Bersabarlah Bunda

Jika tiada lagi pertemuan

Dan semakin panjang malam mencekam

maka esok kita kan hidup mulia

Di atas negeri kita sendiri

Bunda...jangan kau bersedih

"Wahai, kaum muslimin! Lawan dan musuhmu berani menyerang dan menjajah kamu hanyalah karena Allah meninggalkan kamu. Janganlah kamu mengira bahwa musuhmu telah meraih kemenangan atas kamu tetapi sesungguhnya Allah Yang Maha Pelindung dan Maha Penolong telah berpaling dari kamu. Demi Allah, musuh-musuhmu bukannya kuat, tetapi umat Islam yang lemah." (Asy-Syahid Hasan al-Banna)

"Saya mengagumi seorang pemuda karena keberanian dan kepeloporannya dan saya mengagumi seorang pemudi karena adab dan sifat malunya. Sebab, keberanian adalah pelengkap akhlak dan sifat utama pemuda, sedangkan malu adalah kecantikan pemudi yang paling utama." (Mustafa Luthfi al-Manfaluthi)

No comments:

Post a Comment

salam