Wednesday, March 16, 2011

Khutbah Nikah


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ  نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ 
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ  وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ,  فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ  كِتَابُ اللهِ,  وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ b    وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ  وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ  وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ,  اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah,  kami memuji-Nya,  seraya memohon pertolongan dan ampunan-Nya,  dan kami memohon perlindungan Allah dari keburukan-keburukan nafsu kami dan dari akibat buruk perilaku kami.
Barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah kepadanya,  tidak ada yang dapat menyesatkannya,  dan barangsiapa yang telah disesatkan,  tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang layak disembah melainkan Allah saja,  tidak ada sekutu bagi-Nya.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad saw adalah hamba dan utusan-Nya.
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak,  dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,  niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
Ammaa ba’du,
Hadirin rahimakumullah,  khususnya kedua Mempelai yang diberkahi oleh Allah,
Itulah khutbah Nikah dari Nabi saw ketika menikahkan putri tercintanya Fatimah az-Zahra,  intinya adalah pesan Taqwa.  Kenapa Taqwa? Karena orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
  “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.”  (Q. S. Al-Hujurat : 13).
Taqwa dapat dipahami dengan pengertian yang sederhana, yaitu menjalani segala perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Termasuk, perintah melaksanakan pernikahan, dan menjauhi pergaulan bebas dan perzinahan.
Rasulullah B telah bersabda, sesuai dengan hadits dari Abdullah bin Masud :
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ, فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ, وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ, وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
“Wahai para Pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah,  menikahlah.  Karena sesungguhnya dengan menikah dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa dapat menjadi benteng baginya.”
Jadi perintah menikah ini,  sekaligus perintah untuk selalu menjaga pandangan dan menjaga kemaluan,  artinya jangan sekali-kali melakukan perzinahan.   Dan perintah menikah ini,  tentunya bukan bagi jejaka saja,  tetapi termasuk juga para Duda.   Justru kalau tidak menikah,  berarti termasuk kategori orang yang membenci sunnah Nabi,  dan bagi yang membenci sunnah Nabi,  maka tidak termasuk golongan Umatnya.
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  {أَنَّ النَّبِيَّ  حَمِدَ اللَّهَ, وَأَثْنَى عَلَيْهِ, وَقَالَ: " لَكِنِّي أَنَا أُصَلِّي وَأَنَامُ, وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ, وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي}  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Bahwasanya Nabi saw  setelah memuji Allah dan menyanjungnya,  lalu bersabda : “Tetapi aku sholat dan juga tidur,  aku puasa dan juga tidak puasa,  dan aku juga menikahi wanita.  Barangsiapa yang membenci sunnahku,  maka bukanlah ia termasuk golonganku.“
Hadirin rahimakumullah,
Akad Nikah hakikatnya merupakan Janji agung di hadapan Yang Maha Agung,  yang harus dipertanggungjawabkan.  Maka hendaknya janji agung ini kita pegang dengan teguh. Allah telah mengingatkan dalam Al-Quran S. Al-Isra‘ : 34,
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولاً
  “Dan penuhilah janji;  sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.“
Tentu saja seorang yang membangun mahligai rumah tangga,  maka yang menjadi dambaan dan cita-citanya adalah agar kehidupan rumah tangganya kelak berjalan dengan baik, dipenuhi mawaddah war-rahmah, sarat dengan kebahagiaan, adanya saling ta‘awun (tolong menolong), saling memahami dan saling mengerti. Sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an S. Ar-Rum : 21,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ  
  “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
Kondisi mawaddah war-rahmah tentu saja tidak datang begitu saja, syarat untuk bisa mencapai mawaddah war-rahmah, salah satunya adalah, hendaknya suami-istri itu saling melindungi, saling melengkapi dan menutupi kekurangan pasangan masing-masing. Dalam Al-Qur’an S. Al-Baqarah : 187 Allah berfirman:
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
  “Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.“
Dapat kita pahami,  bahwa pakaian berfungsi menutup aurat dan kekurangan jasmani manusia,  jadi demikianlah pasangan suami-istri,  masing-masing pakaian bagi yang lain,  artinya mereka harus saling melengkapi,  saling menutupi kekurangan dan aib pasangannya.  Demikian juga,  masing-masing harus saling melindungi dari segala permasalahan pasangannya.
Apabila ada sepasang suami-istri yang saling membuka aib dan rahasia pasangannya,  maka mereka itulah sebenarnya orang-orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah kelak pada hari Kiamat. Sebagaimana sabda Nabi saw,  hadits dari Abu Said al-Khudri:
وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ {إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ; اَلرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى اِمْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ, ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا}  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.
  “Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seorang laki-laki yang menggauli istrinya dan Istri yang mendatangi suaminya,  kemudian ia membuka rahasia hubungan dengannya.“
Hadirin rahimakumullah,
Dambaan untuk meraih mawaddah war-rahmah dalam bahtera rumah tangga hanya akan terwujud apabila Istri yang mendampingi hidupnya adalah wanita shalihah.  Karena hanya wanita shalihah yang dapat menjadi teman hidup yang sebenarnya dalam suka maupun lara, yang akan membantu dan mendorong suaminya untuk senantiasa taat kepada Allah Ta'ala. Dia akan berupaya ta‘awun dengan suaminya untuk menjadikan rumah tangganya bangunan yang kuat lagi kokoh, yang tidak mudah roboh oleh badai yang menerpanya.
Sabda Rasulullah saw
الدُّنْيَا مَتَاعٌ  وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
  “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).
Sabdanya yang lain : ”Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki?  Itulah istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi,  si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud).
Akhirnya,  saya ingin menyampaikan suatu Doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw untuk disampaikan kepada Pengantin:
بَارَكَ اللهُ لَكَ  وَبَارَكَ عَلَيْكَ  وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ
“Semoga Allah memberkahimu, dan semoga keberkahan atas kamu selamanya,  serta menyatukan kamu sekalian dalam kebaikan.”  (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah).
Hendaknya Doa ini kita panjatkan pada saat selesai Akad Nikah (ijab kabul).
Dan ada satu Doa lagi yang hendaknya dibaca oleh Orang yang telah mendapatkan pasangan hidupnya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَاجَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
“Ya Allah,  sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kabaikannya (istriku),  dan kebaikan dari apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya.   Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukannya (istriku) dan keburukan dari apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya.”  (HR Abu Daud).
Demikianlah khutbah yang saya sampaikan,  semoga Allah senantiasa membimbing kita,  agar dalam mengarungi kehidupan ini selalu mentaati rambu-rambu-Nya.  Dan semoga pernikahan kedua mempelai,  mendapat ridha Allah,  dan diberkahi oleh-Nya,  serta keduanya disatukan dalam kebaikan,  amin.
*****************************************************
Ramai pasangan utamakan majlis mewah, kurang prihatin matlamat kahwin ikut syariat 
APABILA tiba musim cuti sekolah ramai yang mengambil kesempatan mengadakan majlis kenduri perkahwinan kerana pada musim cuti sebegini saudara mara dan sahabat handai mempunyai kelapangan memeriahkan hari bersejarah itu.

Ramai juga pasangan muda-mudi berdebar menghadapi saat penting upacara akad nikah. Debaran itu kadangkala menyebabkan mereka tidak boleh menjawab soalan naib kadi. Pertanyaan popular seperti rukun nikah pun sering hilang daripada ingatan. Pada majlis perkahwinan perlu kita membezakan adat dan ibadat. Dari kaca mata Islam, akad nikah lebih penting daripada kenduri kerana saat menjadi suami isteri ialah tatkala lafaz ijab dan kabul sempurna.

Ketika itu bermula layar bahtera perkahwinan suami isteri dan keluarga perlu diacu mengikut hukum syarak. Berapa ramai pengantin baru dan ahli keluarga yang menghantar pengantin memberi tumpuan kepada khutbah nikah yang disampaikan jurunikah? 

Sebenarnya inti pati khutbah nikah amat bermakna dijadikan teladan dan sempadan dalam perkahwinan. Walaupun majlis perkahwinan dituntut dalam Islam, apalah gunalah jika wang dihabiskan untuk majlis mewah tetapi apabila hendak memulakan kehidupan seharian, raja sehari terpaksa meminjam dan meminta daripada orang lain. Ini membawa implikasi besar kerana menyara keluarga adalah tanggungjawab suami sepenuhnya. Tiada guna bermegah dengan majlis mewah tetapi perkahwinan tidak dapat bertahan kerana masalah kewangan.

Pengantin juga dinasihatkan mendalami ilmu agama, tanggungjawab dan peranan masing-masing. Kerukunan rumah tangga hendaklah sentiasa disemai dan dibajai supaya mekar dan mencapai matlamat perkahwinan iaitu mawaddah wa rahmah (berkasih sayang).

Memang tidak dinafikan sesebuah rumah tangga mesti diuji, anggaplah ujian sebagai pemangkin menambah kasih sayang antara suami isteri. Oleh itu, ketepikan ego dan dendam bagi memastikan layar bahtera rumah tangga dapat dilayari dengan baik. 

Dengan cara itu, segala masalah rumah tangga dapat diselesaikan dengan baik. Saling memaafkan penting bagi memastikan kasih sayang sentiasa dipupuk. Penting juga diingatkan kepada pengantin baru bahawa perceraian bukan suatu permainan.

Seperti pernikahan, perceraian membawa implikasi besar kepada pasangan dan keluarga. Perceraian adalah perkara halal yang amat dibenci Allah. Lafaz talak jangan sekali-kali dibuat mainan kerana walaupun tanpa niat ia mungkin membawa kesan gugurnya talak.

Apatah lagi jika dilafazkan berkali-kali yang mungkin membawa kepada perceraian tidak boleh dirujuk. Apabila perkara itu berlaku, penyesalan tidak bermakna lagi.

Perkara yang sering dilupakan pasangan pengantin ialah belajar ilmu agama walaupun sepatutnya bergelar suami atau isteri persoalan itu tidak perlu diungkit lagi. Namun, sebagai peringatan kita yang sering lupa, suami wajib mengajar sekurang-kurangnya ilmu fardu ain kepada isterinya.

Jika suami tidak mampu mengajar isterinya, hendaklah mencari pengajar. Juga amat baik jika suami meluangkan masa mendalami ilmu agama kerana jika ada masalah dalam keluarga, suami isteri boleh merujuk agama bagi mencari penyelesaian. Risiko perceraian akan dapat dikurangkan. Bagi orang Islam di Malaysia, ada undang-undang khusus berhubung perkahwinan dan perceraian. Undang-undang itu digubal bagi memelihara hak seperti mana dianjurkan Islam. Undang-undang itu dinamakan Akta/Enakmen Undang-Undang Keluarga Islam.

Akta itu digubal dan diluluskan Parlimen dan Dewan Undangan Negeri seluruh negara. Penting bagi suami isteri mengetahui hak dan tanggungjawab mereka mengikut undang-undang.

Undang-undang itu mengawal peraturan dan tatacara sebelum perkahwinan, ketika dalam perkahwinan dan selepas perkahwinan dibubarkan. Ketahuilah hak masing-masing supaya apabila berlaku masalah, mudah mencari jalan penyelesaian atau sekurang-kurangnya bersedia menghadapinya.

Sudah tentu kursus perkahwinan beberapa hari terlalu singkat untuk mendedahkan perkara sebenar kepada pengantin. Kursus itu hanya memberi lontaran idea dan gambaran kasar alam perkahwinan secara teori. Ia tidak mencukupi bagi mengeratkan simpulan ikatan pernikahan antara kedua pasangan.

Sentiasalah berbincang dalam semua perkara walaupun dalam isu dianggap remeh. Hormati pasangan. Semakin hari tanggungjawab semakin berat dan jika kita tidak mendekatkan diri kepada Allah, pasti Allah tidak membantu kita meringankan beban berkenaan.

Jangan akhiri pernikahan yang suci di Mahkamah Syariah atau tempat tidak sepatutnya. Pernikahan yang disulami adat dan ibadat jangan dinodai dengan perceraian. Jika tidak dapat dielakkan, lakukanlah ia dengan penuh hormat dan rasa tanggungjawab.

Sekadar Gambar Hiasan: Hari Perkahwinan K.muni dan A.Wan
Tazkirah kali ini saya bawakan kerana terdapat dari kalangan kita yang terlupa akan sesuatu yang telah dipesan sejurus sebelum nikah. Mungkin gemuruh sampai tidak terdengar apa yang imam atau jurunikah sampaikan. Tidak mengapa. Renung dan imbas kembali, apa yang disampaikan. Rujuk kembali apa yang terucap oleh pak imam. Paling tidak pun, tanyalah ustaz-ustaz apakah yang biasanya disampaikan dalam khutbah nikah. Tiada salah untuk bertanya kerana itulah antara panduan pasangan yang berkahwin.

Tazkirah kali ini juga diharapkan dapat memberi sedikit pedoman buat kita yang sudah bergelar ibubapa untuk tidak meletakkan anak-anak kita yang bakal dan sudah berkahwin dalam keadaan serba salah. Biarlah mereka melayari bahtera perkahwinan mereka tanpa perlu dicampuri urusan mereka. Perlu diingat, antara yang (mungkin bagi sesetengah majlis) telah terlafaz adalah seperti berikut:

“Adalah saya ………………………………wali kepada …………………………dari saat ini menyerahkan tanggungjawab nafkah, pemeliharaan, keselamatan, kasih sayang dan tanggungjawab agama Islam kepada kamu ………………………… sebagai suami yang sah.
Semoga diberkati oleh Allah s.w.t ke atas kamu dan orang yang di bawah tanggungan kamu, serta zuriat keturunan kamu. Amin.’

Diikuti dengan Lafaz Penerimaan Tanggungjawab seperti berikut :

“Dengan ini saya …………………………suami yang sah kepada ……………………… bersyukur kepada Allah s.w.t. di atas anugerah nikmat iman, Islam, kesihatan dan isteri serta berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat bagi menjayakan majils akad nikah ini.

OIeh itu mulai saat ini, saya menerima tanggungjawab sebagai suami kepada isteri saya ……………………………… dan akan berusaha dengan sebaik-baiknya untuk menjalankan tugas sebagai suami seperti berikut :
·         Memberi bimbingan dan panduan ke jalan yang diredhai oleh Allah s.w.t.
·         Memberi nafkah zahir dan batin
·         Pemeliharaan dan perlindungan yang sempurna
·         Keselamatan yang terjamin

Saya mengharapkan doa restu dari semua pihak terutama kedua ibubapa dan kedua ibubapa mertua saya. Sekian, terima kasih.”

Baca, renungkan dan fikirkan…
Wallahualam…

5 comments:

  1. mantop sekali perkongsian ni..
    penuh dengan mauizah bagi pasangan yg akan mendirikan baitul muslim..=)

    ReplyDelete
  2. ana copy paste, tp lupa sumber asalnyer.. afwan..

    satu lagi kekurangan tazkirah di atas, xde ikrar (bai'ah) dari pihak isteri..

    kalau sahabat2 ada idea, boleh kongsikan.. ('',)

    ReplyDelete
  3. Sangat baik dan saya memerlukannya untuk acara pernikahan puteri saya
    Mohon izin. Terima kasih.

    ReplyDelete
  4. mohon kebenaran copy paste
    terima kasih
    hjm

    ReplyDelete

salam