Thursday, March 10, 2011

Pendidikan Anak-Anak (Tarbiyatul Aulad)

Si comel wafa dan si cute faez !!
Blogku adalah diari hidupku. Biarlah dia yang memahami dan mentafsirkan. Ambil hikmah dan ilmu darinya. Agar selepas ini lebih terarah. Moga akan datang lebih terpedoman. Sepertinya belajar sejarah dalam kelas. Sejarah masa lalu akan memandu dan mempedomankan perjalanan hidup sesudahnya. Sejarah silam akan membentengi dan memagari kita dari terjerumus ke lubang dan lembah yang sama. 

Setelah kejadian itu berlaku pada aku dan ahli keluargaku, aku bisa menyimpulkan beberapa penyelesaian. Pertama yang yang paling Utama: penerapan nilai Islam dan agama adalah penting sejak dini lagi. Ketika masih kecil apabila sudah boleh berkomunikasi, latih mereka untuk sentiasa menyebut nama Allah. Nama pencipta sekalian makhluk. Biarlah mereka sentiasa dibayangi dengan nama itu walaupun tidak tahu makna dan tujuan. Semasa mereka meningkat dewasa, terapkan matlamat hidup yang jelas dalam pemikiran dan tindakan. Menuntut dan belajar kerana Allah, dan untuk dakwah agama-Nya. Bukan belajar, lalu berjaya, lalu memungkiri janji pertama kita (semenjak alam sebelum alam rahim). Inna solati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin. Elakkan menerap nilai materialistik, kebendaan, penyakit waham, hubbud dunya wa karahiatul maut. Cintakan dunia dan benci/takut mati. 

Material perlu tapi ia bukan matlamat hidup kita. Kebendaan mesti ada tapi hanya sampingan. Harta sekadar meneruskan kelangsungan hidup dalam kesederhanaan. Bukan wang untuk dibawa mati, tapi amal dalam menguruskan wang yang akan dipersoalkan.

Alkisah satu ceritera bermula: ‘wahai anakku sayang, nanti besar nanti nak jadi apa yea?’ bertanyalah seorang ibu yang terlalu amat kasihkan anaknya. Jawab si anak dengan bangga dan megah ‘nanti besar nak jadi hartawan, nak jadi terkenal satu malaysia, dan kalau boleh satu dunia!’ berbungalah hati si ibu bila mendengar jawapan yang begitu berwawasan dari si anak. Makanya berusaha gigihlah si ibu memberi penghidupan dan kemewahan hidup kepada anaknya semasa belajar dan belajar. Nasihat si ibu itu lagi pada si anak pada suatu hari ‘wahai anakku, belajarlah kamu bersungguh-sungguh, nanti kamu akan berjaya dan boleh pekerjaan yang bagus, pekerjaan yang menjamin hidupmu, yang menjamin kemewahanmu, lalu kamu boleh buat apa sahaja dengan harta itu. Kamu boleh beli kediaman besar, kenderaan besar, syarikat besar dan banyak lagi. Ingatlah pesanan ibu ini wahai anakku’. Bersemangat benar si ibu berkata-kata. Kata-kata nasihat dan azimat inilah yang sentiasa diulang-ulang oleh si ibu. Lalu tumbuh suburlah dalam pemikiran si anak bahawa yang menjamin masa depannya adalah harta dan wang. 

Justeru bagaimana pendapat sahabat-sehabat sekalian yang mulia? Apakah natijah kehidupan bagi si anak tersebut pada anggapan kawan-kawan sekalian yang dihormati? Ke manakah kesudahan kehidupan si anak tersebut, wahai pembaca blogku yang setia? 

Teks dibawah saya petik dari blog lain, semoga beroleh hikmah:

Anak adalah amanah. Membesarkan anak bukan semata dengan memenuhi berbagai keinginannya. Lebih dari itu, yang paling penting adalah bagaimana menanamkan pemahaman agama sejak dini, sehingga anak bisa mengenal Tuhannya, Nabinya, dan memiliki akhlak mulia.
Anak adalah karunia dan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terasa bahagia hati tatkala melihat mereka, terasa sejuk mata saat memandang mereka. Begitu pun jiwa terasa bahagia dengan keceriaan mereka. Bahkan nikmat Allah yang satu ini termasuk dalam doa Nabi Zakaria ‘alaihi salam. Beliau mengatakan:
“Rabb-ku janganlah Kau membiarkanku seorang diri, sesungguhnya Engkau sebaik-baik yang mewarisi.” (Al-Anbiya: 89)
Anak adalah perhiasan hidup di dunia. Orang yang tidak dikarunia anak akan mengetahui betapa besar nikmat ini.
Adapun dirimu, sungguh engkau seorang ibu akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang telah Allah bebankan kepadamu pada hari kiamat nanti, apakah engkau menjaganya ataukah menyia-nyiakannya?
Ketahuilah olehmu, kesempurnaan perhiasan seorang anak tidaklah akan diraih kecuali dengan agama dan kebaikan akhlaknya. Bila tidak demikian, anak hanya akan menjadi musibah bagi kedua orang tuanya di dunia dan akhirat.
Banyak masalah yang berkaitan dengan pendidikan mereka secara umum, akan tetapi kita tidak akan membahas panjang lebar, namun sekedar menyinggung beberapa perkara yang penting:
1. Bersemangatlah untuk menyelamatkan akidah mereka dari perkara-perkara yang bisa mengotorinya. Hindarkanlah mereka dari memakai jimat-jimat, meramal nasib dengan melihat garis tangan atau bentuk-bentuk ramalan yang lainnya. Jadikanlah Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sesuatu yang agung dalam hati mereka.
2. Bersemangatlah dalam menanamkan keimanan, kebaikan dan perasaan selalu diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hati mereka. Renungkanlah wasiat Luqman kepada anak-anaknya:
“Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi berada dalam atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah tetap mendatangkannya (membalasnya).” (Luqman: 16)
Mereka harus senantiasa diingatkan bahwa Allah Maha Mengawasi dan Maha Melihat amalan-amalan hamba-hamba-Nya.
Diriwayatkan dari Tsabit bin Qais dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia mengisahkan: “Rasulullah mendatangiku ketika aku sedang bermain dengan teman-temanku. Beliau memberi salam kepada kami, kemudian mengutusku untuk suatu keperluan, sehingga aku terlambat datang kepada ibuku. Ketika aku datang, ibuku bertanya, ‘Apa yang membuatmu terlambat?’ Maka aku menjawab, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku untuk suatu keperluan.’ Ibuku bertanya lagi, ‘Apa keperluan beliau?’ Aku katakan, ‘Ini rahasia.’ Maka ibuku pun mengatakan, ‘Kalau begitu, jangan sekali-kali kau ceritakan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang pun.’ Anas berkata: ‘Demi Allah, seandainya aku memberitahtkan rahasia itu kepada seseorang sungguh aku juga akan memberitahukan padamu, wahai Tsabit’.” (Shahih, HR. Muslim)
Perhatikanlah, sang ibu tidaklah menghukum anaknya ketika merahasiakan urusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadapnya, berbeda dengan yang dilakukan oleh sebagian ibu yang lain. Bahkan beberapa di antara kaum ibu terlalu banyak bertanya kepada anak mereka tentang hal-hal yang tidak layak diketahui banyak orang dari suatu rumah yang dikunjungi si anak, dan tentang segala yang terjadi di antara penghuni rumah tersebut. Dengan semua itu, tanpa disadari sang ibu telah menanamkan dalam diri anaknya sifat fudhul (terlalu ingin tahu urusan orang lain) dan suka menyebarkan rahasia.
3. Ingatkanlah mereka, bahwa Allah Maha Perkasa, menghukum hamba-hamba-Nya yang bermaksiat kepada-Nya. Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap orang-orang yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Ingatkanlah mereka tentang maut dan beratnya kematian, tentang alam kubur dan kegelapannya, serta tentang kiamat dan kengerian pada saat itu.
Perintahkanlah mereka untuk selalu taat kepada Allah, terlebih lagi dalam perkara shalat. Dampingilah mereka dalam melaksanakannya dan bangunkan mereka dari tidurnya untuk shalat. Tanamkanlah dalam diri-diri mereka agungnya kedudukan shalat. Waspadalah dari kasih sayang terhadap mereka yang membuatmu tidak membangunkan mereka yang dapat menyebabkan dirimu dan dirinya masuk ke dalam neraka.Wal’iyaadzubillah.
Biasakanlah mereka berpuasa sejak kanak-kanak agar mudah melaksanakannya ketika usia mereka telah baligh dan sadarkanlah mereka terhadap pengawasan Allah. Sesungguhnya puasa adalah pendidik paling besar bagi mereka agar mereka menyadari bahwa Allah Maha Mengawasi.
4. Awasilah anak-anakmu dan jangan biarkan mereka bermudah-mudah melakukan perkara-perkara yang mungkar, sementara engkau  mengetahuinya. Janganlah berdiam diri sementara engkau mengetahui bahwa putrimu mendengarkan nyanyian atau menggunakan cat kuku (kuteks) lalu ia berwudhu tanpa menghilangkannya, atau mengerik alisnya, atau ia melepaskan hijab yang syar’i, atau keluar dengan memakai wewangian, atau bepergian sendiri ke pasar maupun ke tempat-tempat umum lainnya, atau ia mengendarai mobil berdua saja dengan sopir, atau ia suka membaca majalah-majalah yang dapat merusaknya!
Janganlah bersikap terlalu percaya yang berlebihan atau merasa was-was yang keterlaluan yang dapat mempengaruhi diri putrimu hingga ia kehilangan rasa percaya dirinya.
Wahai ibu yang mulia, hindarilah memberikan protes tampa mampu berbuat sesuatu padanya atau engkau semata-mata membenci kemungkaran yang dilakukannya tanpa tindakan apapun. Akan tetapi, jadilah orang yang kuat memegang al-haq yang tidak akan ridha pada sesuatu yang batil namun lemah lembut dan penyayang dalam perkara-perkara selain itu. Didiklah dengan baik putrimu karena kelak di hari akhir dia bisa menjadi tabir/penghalang api neraka darimu.
Asy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Berbuat baik terhadap anak-anak perempuan diwujudkan dengan mendidik mereka dengan pendidikan Islami, mengajarkan ilmu kepada mereka, membesarkan mereka di atas al-haq dan semangat untuk menjaga kehormatan diri, serta menjauhkan mereka dari perkara-perkara yang diharamkan Allah berupa tabarruj* dan selainnya. Demikian itulah metode mendidik anak-anak perempuan dan anak laki-laki, juga dengan hal-hal selain itu yang termasuk sisi-sisi kebaikan, sehingga mereka semua terdidik untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan menjauhkan diri dari perkara-perkara yang diharamkan Allah serta menegakkan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian kita ketahui bahwasanya maksud berbuat baik di sini bukanlah semata-mata memberi mereka makan, minum, dan pakaian saja. Bahkan maksudnya lebih besar daripada itu semua, yaitu berbuat kebaikan kepada mereka dalam masalah agama maupun dunia.” Beliau juga berkata: “Hadits ini ditujukan kepada ayah maupun ibu secara umum.” (Majmu’ Fataawa wa Maqaalat Muta’addidah, 4/377)
5. Peringatkanlah putra-putrimu dari teman-teman yang jelek dan jelaskan akan bahayanya bergaul dengan mereka. Jagalah mereka dari bermain di jalanan serta bahayanya. Buatlah mereka sibuk dengan perkara-perkara yang memberi manfaat pada diri mereka, seperti menghafal Al Qur’an di masjid.
Janganlah engkau memasukkan alat-alat yang diharamkan ke dalam rumah, terlebih lagi video, walaupun engkau memberikannya dengan maksud sekedar untuk menghibur mereka.
Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya: “Barangsiapa meninggalkan sesuatu yang disukai oleh hawa nafsunya karena Allah, maka Allah akan memberi ganti yang lebih baik darinya di dunia dan akhirat. Demikianlah, barangsiapa meninggalkan maksiat karena Allah, padahal hawa nafsunya ingin melakukannya, Allah akan menggantikannya dengan keimanan dalam hatinya, berikut keluasan, kelapangan dan berkah dalam rejekinya serta kesehatan badannya, di samping pahala dari Allah yang ia tidak akan mampu menggambarkannya.” (Taisir Al-Karimir Rahman).
Waspadalah wahai saudariku muslimah dari mendoakan kejelekan atas anak-anakmu, walaupun diri dalam keadaan marah. Bisa jadi doamu bertepatan dengan waktu terkabulnya doa, hingga doa jelekmu itu terkabul. Sebaliknya, perbanyaklah mendoakan kebaikan bagi mereka.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memperbaiki anak-anak kita dan menjadikan mereka penghibur hati bagi kita di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah menolong kita dalam mengemban amanah ini.
http://fadhlihsan.wordpress.com/2010/08/02/nasehat-bagi-orang-tua-dalam-mendidik-anak/

wassalam..

No comments:

Post a Comment

salam